Setelah lama berpikir dan menimbang, terutama dari segi finansial (hahaha), akhirnya beberapa hari lalu saya memutuskan untuk memesan sebuah paket hosting plus nama domain untuk melanjutkan riwayat blog ini. Nama domain yang saya ambil mengacu pada nama saya sendiri: ahmadmakki.web.id. Selanjutnya blog ini akan saya jadikan semacam miroring site dari Blog Ahmad Makki tersebut
Keputusan ini sengaja saya ambil agar semakin terpacu untuk menulis, karena fasilitas yang saya pakai tidak gratis lagi. Semoga pertimbangan ini bisa terus saya ingat dan berlaku seterusnya.
Untuk semua kawan-kawan blogger yang telah menge-link blog ini, saya memohon kesediannya untuk memindahkan link ke alamat baru tersebut, yakni ahmadmakki.web.id. Berhubung tengah dalam masa rapi-rapi, mungkin beberapa link belum terpasang di sana, jika ada yang merasa link-nya belum eksis, harap konfirmasi di buku tamu pada alamat baru.
Terima kasih untuk segala partisipasi yang pernah diberikan untuk blog ini.
Kategori: Uncategorized
Insya Allah tulisan saya berjudul “Ambiguitas Pemerintah soal Bom Kuningan” akan dimuat Tangerang Ekspres pagi ini. Demi menghormati koran tersebut saya hanya akan memasang contoh gambarnya hingga versi cetaknya telah diterbitkan.

Ahmad Makki tentang Bom Kuningan
Kategori: Uncategorized
Ditandai: Bom JW Marriot dan Ritz Carlton
1. Tidak neoliberal
2. Tidak menjual BUMN dan aset negara lainnya
3. Tidak menggunakan iklan menteri-menteri untuk berkampanye
4. Tidak membiarkan tim kampanyenya berlaku rasis
5. Tidak terlalu mudah menghutang dari negara lain
6. Tidak sok bijaksana saat calon lainnya protes karena disulitkan keadaan
7. Tidak menjelek-jelekkan bisnis pejabat tapi bisnis keluarganya dibiarkan
8. Tidak membiarkan kisruh DPT berlanjut
9. Tidak kompromistis dengan kesalahan-kesalahan KPU
10. Tidak memakai kekuatan hukum untuk menyulitkan orang yang tak sependapat
11. Tidak memakai media untuk menghalangi hak calon lain
12. Tidak “ngambek” saat dikritik calon lain
13. Tidak membalas kritikan kalau calon lain tidak boleh mengritik
14. Tidak cuma “nampang” saat mengumumkan kebijakan yang populis
15. Tidak menyuruh orang lain saat mengumumkan kebijakan yang tidak populis
16. Tidak tunduk dengan pihak asing
17. Tidak memakai kekuatan media untuk mengalihkan protes atas kebijakan yang tidak populer
18. Tidak suka menyembunyikan keberhasilan orang lain
19. Tidak marah-marah saat menegur orang lain yang bosan dengan pidatonya
20. Tidak cuma mengajak negara-negara besar saat WOC, tapi juga nelayan
21. Tidak menghalalkan segala cara untuk menang
Kategori: Sosial, politik, budaya
Ditandai: Pilpres 2009, SBY

pemilu, pilpres, capres
Masuknya nama Boediono sebagai kandidat cawapres pendamping Susilo Bambang Yudhoyono pada awalnya cukup mengejutkan berbagai pihak. Sosok kalem ini lebih dikenal sebagai seorang ekonom yang tenggelam dalam dunia akademis dan masalah-masalah perekonomian bangsa ketimbang sebagai seorang politikus. Munculnya nama ini bahkan sempat mengancam koalisi yang sebelumnya telah dibangun Partai Demokrat.
Namun di luar pro-kontra tersebut, dalam pandangan saya keikutsertaan Boediono dalam kompetisi pilpres kali ini seharusnya bisa menjadi alat pemicu yang menarik dalam hal perdebatan ide di antara masing-masing pasangan kandidat presiden-wakil presiden.
Kita tahu bahwa sebagai seorang ekonom, Boediono adalah sosok yang mewakili kelompok pro IMF, bersama sejawatnya, Sri Mulyani. Kelompok ini seringkali disebut sebagai neo liberalisme atau neolib. Jika kita masih mau percaya dengan platform politikus dan partainya di Indonesia, maka kehadiran sosok mantan Gubernur BI ini merupakan tandingan sepadan bagi ide-ide kerakyatan yang digalang oleh pasangan Mega-Prabowo, serta isu kemandirian yang diusung Jk-Wiranto. Dalam anggapan saya, jika pertarungan ide ini terjadi secara normal, maka ini merupakan pendidikan politik yang sangat berharga bagi seluruh rakyat Indonesia. Baca terus →
Kategori: Sosial, politik, budaya · Tokoh
Ditandai: Boediono, McCain, neo liberal, Obama, pemilu, pilpres, SBY, Susilo Bambang Yudhoyono
Beberapa waktu lalu Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, melontarkan pernyataan soal budaya jaipongan yang dikaitkan dengan nilai-nilai kesopanan. Ia mengatakan bahwa budaya yang identik dengan goyangan ini mesti “dipermak ulang” agar terlihat lebih sopan.
Pernyataan ini sempat menyulut kontroversi dan tentu saja memancing penolakan, terutama dari kalangan penggiat kebudayaan. Mereka tentu saja menganggap bahwa pernyataan Heryawan keterlaluan dan cenderung tidak mengapresiasi kebudayaan yang telah dijalani dan dihayati masyarakat secara turun-temurun. Baca terus →
Kategori: Sosial, politik, budaya
Palestina berubah jadi ladang pembantaian. Ini memang bukan yang pertama kali, tapi merupakan salah satu titik kulminasi konflik. Sebagian besar warga dunia menghibahkan simpatinya untuk Palestina dengan berbagai ekspresi, mulai bantuan, ucapan bela sungkawa, lagu, teriak kegeraman, sampai yang mondar-mandir di rimba blogosfer untuk mendukung Palestina sambil menghujat Israel.
Tapi memang betul, Israel terlalu bebal untuk belajar hidup bersama.
Di sini, masing-masing kita punya semua ekspresi yang disebut di atas, mulai yang mengatasnamakan keislaman hingga yang berdasar kemanusiaan. Baca terus →
Kategori: Sosial, politik, budaya
Ditandai: Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, NU, Palestina
Sebetulnya saya tidak paham betul dengan istilah nge-tag yang dipakai Wanto untuk memilih 10 blogger yang diberikan tugas untuk melanjutkan kegiatan ini. Kelihatannya ini adalah tradisi para blogger untuk saling menyemangati dan menjaga silaturahmi. Ya, ini relevan dengan beberapa kegiatan saya akhir-akhir ini yang membuat blog ini relatif agak terbengkalai.
Meski tak begitu paham saya menganggap ini tradisi bagus yang mesti dirawat, karena mengandaikan adanya komunikasi intim di antara sesama blogger senasib sepenanggungan. Karenanya saya merasa harus ikut melestarikan tradisi para blogger yang bernilai positif ini. Baca terus →
Kategori: Uncategorized