Lelaki Berkulit Gelap

1373Segera saja perempuan berambut panjang bangun dari kursi dan melangkah keluar dari ruangan yang tak seberapa luas itu. Ditebal-tebalkan kupingnya agar tak mendengar suara apa pun yang keluar dari mulut lelaki berkulit gelap yang tadi masih duduk bersamanya. Tapi sepertinya lelaki itu memang tak bersuara apa-apa.

Perempuan berambut panjang tengah memakai sepatu ketika wajah dan sebagian tubuh lelaki berkulit gelap nongol di ambang pintu sambil bersender, dan kemudian melihat kepadanya. Tapi segera ia pasang tampang tak peduli, dengan pulasan kejengkelan yang berkerut di antara kedua alis.


Sementara lelaki berkulit gelap dengan wajah membesi, memandang perempuan berambut panjang sambil sesekali menghisap sebatang rokok yang terselip di sela-sela jemari tangan kirinya. Asap membuncah dan menghalangi wajahnya ketika perempuan berambut panjang sekilas melirik dan langsung berbalik dengan gerakan yang canggung, untuk kemudian pergi menjauh dan lenyap ditelan tikungan gang.

Lelaki berkulit gelap masih bersender di pintu. Kali ini dengan pandangan kosong. Ingin dikejarnya perempuan berambut panjang yang tak lain adalah kekasihnya itu, namun entah kenapa kali ini ia serasa tak punya tenaga bahkan untuk sekedar beringsut dari senderannya. Sesaat diingat-ingatnya pertengkaran mereka yang baru saja terjadi, tapi pikirannya begitu kacau. Yang teringat olehnya justru sepotong adegan persetubuhan yang basah beberapa minggu lalu, lengkap dengan suara desah dan lenguhnya, serta kilatan-kilatan peluh pada sekujur kulit mereka.

Seringkali ia menempelkan lengannya pada lengan sang kekasih yang rebah di sisinya, sehabis orgasme. Pada saat-saat seperti itu ia akan sangat terkesan dengan perpaduan kontras dari warna kulit mereka berdua. Lalu dengan nafas masih memburu ia akan berkata, “Lihatlah, betapa indah warna kita di bawah sekat keringat.” Mendengar itu, perempuan berambut panjang yang rebah di sampingnya akan merenggut kepalanya dan membenamkan bibir lelaki berkulit gelap pada bibirnya.

Sekilas lelaki berkulit gelap merasakan darahnya mengalir lebih cepat, disertai desiran-desiran hangat yang merambat pada permukaan kulitnya. Namun begitu diingatnya kejadian yang barusan, desiran-desiran itu pupus begitu saja bersama kenangan persetubuhan.

Sementara itu di lorong panjang yang tak seberapa jauh dari tempat lelaki berkulit gelap itu, beberapa saat setelah ditelan tikungan gang, perempuan berambut panjang menoleh ke belakang dan melihat bahwa tak ada sesiapa yang mengikuti. Agak heran juga dia mengetahui bahwa lelaki berkulit gelap tak menyusulnya buru-buru. Biasanya kalau pertengkaran tengah memuncak di antara mereka, ia akan segera angkat kaki, dan lelaki berkulit gelap akan tergopoh-gopoh menyusul sambil memanggil-manggil namanya dari belakang. Tapi kali ini lelaki berkulit gelap seperti tak punya peduli, dan segera perempuan berambut panjang merasakan hampa di hatinya, sambil sesekali merasakan ajakan kakinya untuk berbalik dan menghampiri lagi kekasihnya. Namun untuk berbuat seperti itu harga dirinya terlalu tinggi. Maka demi mengusir dorongan itu, diingat-ingatnya pertengkaran mereka yang baru saja terjadi. Tapi pikirannya sedemikian tak keruan. Yang diingatnya justru sepotong adegan persetubuhan yang basah beberapa minggu lalu, lengkap dengan suara desah dan lenguhnya, serta kilatan-kilatan peluh pada sekujur kulit mereka.

Seringkali ia merasakan lengannya ditempeli lengan sang lelaki berkulit gelap yang rebah di sisinya, sehabis orgasme. Pada saat-saat seperti itu ia tahu bahwa lelaki berkulit gelap akan mengagumi perpaduan kontras dari warna kulit mereka berdua. Lalu ia mendengar kekasihnya itu dengan nafas masih memburu akan berkata, “Lihatlah, betapa indah warna kita di bawah sekat keringat.” Entah mengapa tiap kali mendengar kalimat itu, sesaat ia merasa seperti dibakar gairah yang membuatnya merenggut kepala lelaki berkulit gelap untuk membenamkan bibirnya pada bibir kekasihnya.

Sejenak perempuan berambut panjang merasakan aliran darahnya menyentak-nyentak, sambil degup jantungnya mendadak berkejaran. Namun begitu diingatnya kejadian yang barusan, sentakan-sentakan itu pupus begitu saja dan langkah kakinya pun terasa lebih mantap.

***

Seminggu sejak pertengkaran, perempuan berambut panjang mondar-mandir dengan gelisah di ruang tengah rumahnya. Selama itu ia menghabiskan waktu untuk menunggu pesawat teleponnya berdering. Barangkali kekasihnya yang berkulit gelap itu akan menghubunginya untuk menyapa lalu meminta maaf kepadanya, atau justru untuk meneruskan pertengkaran mereka sebelumnya, yang sebetulnya belum juga sampai di akhir cerita. Tak apa-apa. Ia berpikir saat ini lebih baik mereka bertengkar sampai suara mereka habis, ketimbang harus mengira-ngira menunggu waktu. Bagaimanapun marahnya ia terhadap kekasihnya itu, namun jika harus berpisah selama ini, rasanya ia tak tahan juga. Dirasakannya dadanya berdegup-degup kencang setiap kali diingat kekasihnya yang berkulit gelap itu. Kadangkala ada terpikir di kepalanya untuk menelepon kekasihnya itu terlebih dulu, namun untuk berbuat seperti itu harga dirinya terlalu tinggi.

Perempuan berambut panjang mengorek-ngorek ingatannya. Sejauh ini dalam rentang waktu hubungan mereka, kekasihnya yang berkulit gelap itu tak pernah tahan berlama-lama untuk tak berjumpa dengannya. Paling ia cuma kuat tiga hari untuk tidak bertemu. Dan itu terjadi lima bulan yang lalu, saat mereka mengalami pertengkaran yang lebih hebat dari sekarang. Biasanya kalau tiga hari sudah berselang, lelaki berkulit gelap itu tak akan peduli siapa yang sepantasnya minta maaf lebih dulu, karena ia telah lebih dulu kebelet kangen.

Tapi kali ini mengapa kekasihnya itu seperti sudah tak lagi punya perasaan kangen. Mendadak perasaan was-was menyergapnya. Jangan-jangan kekasihnya itu sudah merasa bosan dengan hubungan mereka yang kebanyakan isinya pertengkaran, lalu mencari perempuan lain yang lebih pas untuk menjadi pacarnya. Mengingat kemungkinan itu, ia hampir saja mengangkat gagang telepon untuk menghubungi kekasihnya. Tapi ia kenal betul kekasihnya yang berkulit gelap itu bukan macam lelaki gampangan yang cepat diserang bosan, atau kehilangan kasih sayang. Ia pernah membuktikannya dua bulan lalu, waktu ada seorang perempuan cantik dan kaya, jatuh cinta kepada kekasihnya itu. Berkali-kali perempuan itu menyatakan perasaannya, tak jarang disertai kiriman hadiah yang bagus-bagus dan tentu saja harganya mahal. Tapi dengan tenang dan sopan, lelaki berkulit gelap menolak semua pemberian hadiah, sekaligus juga menolak perasaan perempuan cantik dan kaya itu dengan mengatakan bahwa ia sudah punya perempuan yang membuatnya jatuh cinta.

Pada waktu itu perempuan berambut panjang hampir saja melabrak perempuan cantik dan kaya yang membuatnya cemburu itu. Lebih-lebih ia merasa kalah kelas baik secara fisik maupun materi, jika dibandingkan dengan perempuan cantik dan kaya. Tapi demi mendengar jawaban kekasihnya kepada perempuan cantik dan kaya, ia begitu terharu dan hilang pula semua amarah dan cemburunya. Sebegitu terharunya, sampai ia pun memutuskan untuk menghibur perempuan cantik dan kaya yang katanya tak mau berhenti menangis sampai seminggu sesudahnya.

Perempuan berambut panjang mendadak menggeragap dari lamunannya. Diletakkannya kembali gagang telepon itu ke tempatnya, lalu kembali berjalan mondar-mandir di sekeliling ruangan itu, menunggu pesawat teleponnya berdering.

Sementara itu, di kostnya, lelaki berkulit gelap duduk di depan meja yang berdempetan dengan jendela kamarnya. Kali ini sengaja ia tak membuka jendela itu, dibiarkan kamarnya gelap. Bahkan lampu yang menggantung di langit-langit dibiarkannya menganggur. Padahal biasanya ia tak pernah membiarkan kamarnya gelap begini. Bahkan pada saat tidur pun, lampu itu dibiarkannya menyala. Dalam gelap itu, kedua lengannya yang ia taruh di meja pun hampir-hampir tak terlihat. Entah karena gelap yang mengungkung di kamar, atau karena gelap yang menjadi warna kulitnya.

Sudah tiga hari ini ia mengunci pintu kamarnya dari dalam, tanpa pernah keluar untuk mandi atau makan. Hanya sesekali ia minum dari galon air yang ada di pojok kamar. Teman-temannya setetangga mengira ia tak pernah pulang. Barangkali ia tengah menghindari ibu kost yang biasanya rajin bolak-balik pada awal bulan demi menagih uang sewa kost, begitu spekulasi mereka. Kamar itu sudah terasa pengap bukan main, tapi sepertinya lelaki berkulit gelap tak peduli, dan masih tetap berniat untuk lebih lama mengunci diri. Selama itu yang dikerjakannya cuma tidur, bangun dan melamun, lalu mondar-mandir kamar sambil melamun, kemudian setelah agak lelah duduk di depan meja yang berdempetan dengan jendela kamarnya, juga untuk melamun. Adakalanya ia mengusap-usap foto kekasihnya yang tergeletak di meja, seolah-olah ia mampu melihat gambar itu dalam gelap. Lain waktu, sambil rebahan di dipan, ia dekapkan foto itu di dadanya, lalu diusap-usapkan sambil melamun.

Keesokan harinya, pagi-pagi benar ia terbangun oleh suara pintu kamarnya yang diketuk-ketuk orang dari luar. Waktu dibuka, ia lihat perempuan berambut panjang berdiri sambil tersenyum-senyum. Mendadak perempuan berambut panjang mendorong dadanya hingga lelaki berkulit gelap terhenyak di atas kasur, sambil melangkah masuk dan mengunci pintu kamar. Tanpa berkata apa-apa perempuan berambut panjang melucuti pakaiannya sendiri, lalu membeset sarung yang dikenakan lelaki berkulit gelap yang setelah itu tak lagi mengenakan apa-apa.

Belum lagi lelaki berkulit gelap menyadari apa yang terjadi, ia melihat perempuan berambut panjang menindihnya kuat-kuat, seolah tak memberinya kesempatan buat meronta-ronta. Lagi pula, kalau saja kesempatan itu ada, lelaki berkulit gelap sedikit pun tak bakal meronta. Segera saja lelaki berkulit gelap teringat sepotong adegan persetubuhan yang basah beberapa minggu lalu, lengkap dengan suara desah dan lenguhnya, serta kilatan-kilatan peluh pada sekujur kulit mereka.

Namun tidak seperti biasanya, persetubuhan mereka kali ini memakan waktu yang lebih lama. Gerakan-gerakan mereka pun lebih liar dari biasanya.

Akhirnya sewaktu mereka telah kehabisan tenaga, kedua-duanya rebah berdempetan. Lelaki berkulit gelap baru saja hendak menempelkan lengannya pada lengan sang kekasih yang rebah di sisinya sambil berkata, “Lihatlah, betapa indah warna kita di bawah sekat keringat”, ketika menyadari ada yang berubah pada warna kulit mereka. Ia memperhatikan lengan keduanya yang hampir berdempetan, dan tak lagi melihat kontras di antaranya. Sontak ia pun berseru kaget, sambil bangkit terburu-buru. Namun langkahnya tersandung oleh kaki perempuan berambut panjang, dan membuatnya jatuh dari tempat tidurnya.

Tahu-tahu lelaki berkulit gelap mendengar pintu kamarnya diketuk-ketuk orang dari luar. Selagi membuka matanya, ia merasakan kepalanya sakit karena terantuk pinggir tempat tidur waktu ia terjatuh tadi. Dilihatnya perempuan berambut panjang tak ada lagi di atas tempat tidur. Sementara suara ketukan di pintu telah berubah menjadi gedoran-gedoran tak sabar dari orang di luar. Didengarnya suara perempuan berambut panjang memanggil-manggil namanya. Segera saja ia membuka jendela dan kabur lewat jalan belakang, berlari-lari menjauhi tempat itu sambil sesekali menengok ke belakang.

Ia terus berlari tanpa juntrungan arah. Sampai di sebuah persimpangan, dari kejauhan ia melihat Storqowi yang tengah asyik berjalan pelan sambil bersenandung kecil. Ia mempercepat larinya untuk menyusul Storqowi, lalu menghentikan larinya di samping Storqowi yang terperanjat karena tahu-tahu lengannya digamit orang.

Lelaki berkulit gelap membungkuk sambil berpegangan pada lengan Storqowi, lalu mencoba mengatur nafasnya yang amburadul. Storqowi yang melihat lelaki berkulit gelap nampak acak-acakan, mengajak temannya ini ke tempat tinggalnya. Sampai di sana, lelaki berkulit gelap menceritakan semua kejadian yang ia alami pada Storqowi. Begitu juga mimpinya pagi tadi ia beberkan. Lama juga Storqowi berupaya berpikir keras sambil mengusap-usap janggutnya. Kerutan alisnya kelihatan lebih mencorong.

”Mengapa tak kau coba menemuinya lebih dulu untuk membuktikan mimpimu?” Tanya Storqowi pada lelaki berkulit gelap yang menunggu tanggapan sejak tadi.

”Melihatnya dalam mimpi saja aku tak sanggup!”

”Mengapa begitu kau percaya mimpimu itu?”

“Mungkin kau tak akan percaya, tapi selama ini, mimpi sering memberi kami petunjuk yang sangat terpercaya. Bahkan hubungan kami pun awalnya dari mimpi.” Kata lelaki berkulit gelap yang melihat mimik keheranan pada muka Storqowi. Mulailah ia ceritakan asal-usul hubungan mereka berdua.

Pada mulanya antara lelaki berkulit gelap dengan perempuan berambut panjang tak pernah ada perasaan apa pun. Mereka tak lebih dari teman satu kampus yang saling mengenal nama, tanpa pernah terlibat dalam percakapan yang akrab. Sesekali memang mereka terlibat beberapa acara bersama, tapi itu pun cuma bolak-balik ketemu muka, atau mungkin beberapa kali saling sapa.

Hingga suatu malam, lelaki berkulit gelap bermimpi ia tengah berada di sebuah taman kota yang tak pernah ia tahu di mana letaknya. Ketika ditanyakan pada orang-orang yang tengah berseliweran di depannya, tak ada seorang pun yang tahu atau pernah mendengar nama tempat lelaki berkulit gelap tinggal. Tak tentu arah ia pontang-panting mencari arah pulang, tapi tak juga ditemukan.

Ketika dilihatnya sebuah gunung yang jangkung di pinggiran kota, ia berikhtiar untuk mendakinya dan melihat daerah sekitarnya dari atas sana. Berhari-hari ia bersusah-payah mendaki hingga mencapai puncak, ketika ia lihat di bawah sana mendadak air bah yang datang entah dari mana, tahu-tahu meluberi seisi bumi. Begitu cepat datangnya air bah itu, sampai ia menaksir-naksir bahwa tak ada seorang pun yang sempat menyelamatkan diri dari bencana tersebut. Tapi banjir itu ternyata tak mampu menelan gunung jangkung itu. Lelaki berkulit gelap teringat legenda air bah pada zaman Nuh. Tapi saat ini kelihatannya cuma dirinya seorang yang selamat. Lelaki berkulit gelap membatin, mestilah ini takdir Tuhan.

Selama beberapa hari lelaki berkulit gelap menunggu air susut, tapi sepertinya banjir ini tak juga menunjukkan tanda-tanda bakal selesai. Akhirnya dengan bingung ia mondar-mandir di sekitar daerah puncak gunung, sampai ia menemukan sebuah goa gelap yang menurutnya dalam keadaan seperti itu, cukup layak buat dijadikan tempat tinggal sementara.

Dengan sedikit bimbang lelaki berkulit gelap coba-coba menelusuri goa yang ternyata cukup panjang itu. Sepanjang jalan ia meraba-raba, karena cahaya yang bisa masuk tak cukup membantu penglihatannya. Ketika ia merasa kepenatan menendang-nendang sekujur tubuhnya, lelaki berkulit gelap memutuskan untuk mengumpulkan tenaga barang sebentar, tanpa sengaja ia pun ketiduran.

Entah berapa lama ia tidur. Pada saat terbangun, didengarnya suara isakan pelan, dari tempat yang tak seberapa jauh darinya. Nampaknya suara perempuan, pikir lelaki berkulit gelap. Dihampirinya sumber suara tersebut, ia dapati seorang perempuan tengah duduk sambil kepalanya disembunyikan di antara kedua kakinya yang ditekuk. Dirabanya punggung perempuan yang menangis itu untuk menghibur, perempuan yang menangis itu langsung menggamblok pada tubuhnya, dan mencerocoskan cerita tentang usahanya buat menyelamatkan diri dari bencana air bah, serta cerita tentang seluruh keluarganya yang ditelan semburan air. Setelah puas si perempuan yang menangis bercerita, lelaki berkulit gelap memintanya untuk istirahat dan menenangkan diri. Perempuan yang menangis itu pun tertidur, dan tak berapa lama, lelaki berkulit gelap pun ikut-ikutan tertidur.

Lelaki berkulit gelap terbangun ketika dirasakannya pakaiannya dibetot-betot dengan ganas oleh si perempuan yang menangis. Belum lagi lelaki berkulit gelap menyadari apa yang terjadi, perempuan yang menangis menindihnya kuat-kuat, seolah tak memberinya kesempatan buat meronta-ronta. Lagi pula, kalau saja kesempatan itu ada, lelaki berkulit gelap sedikit pun tak bakal meronta. Segera saja mereka terlibat dalam adegan persetubuhan yang basah, lengkap dengan suara desah dan lenguhnya, dan tentu saja kilatan-kilatan peluh pada sekujur kulit mereka.

Sesudah persetubuhan itu, mereka kembali tertidur, dan ketika bangun, mereka memutuskan untuk keluar dari gua gelap itu. Barangkali air sudah susut, dan mereka bisa pulang ke tempat tinggal mereka. Pada saat sampai di mulut gua, perempuan yang menangis baru tahu, lelaki yang ia betot paksa pakaiannya, ternyata lelaki berkulit gelap yang telah ia kenal sebelumnya. Sementara lelaki berkulit gelap barulah sadar bahwa perempuan yang menangis yang membetoti pakaiannya dan kemudian menyetubuhinya di dalam gua, adalah perempuan berambut panjang, teman sekampusnya. Lelaki berkulit gelap membatin, mestilah ini takdir Tuhan.

Sampai di situ mimpi lelaki berkulit gelap.

Keesokan harinya ketika lelaki berkulit gelap bertemu dengan perempuan berambut panjang, melalui isyarat-isyarat aneh, ia mengetahui bahwa perempuan berambut panjang pun tadi malam mendapat mimpi yang sama. Sejak itulah keduanya memulai hubungan percintaan mereka.

“Begitu ceritanya.” Kata lelaki berkulit gelap kepada Storqowi yang menghela nafas panjang.

“Bukan sekali itu saja.” Sambung lelaki berkulit gelap.

“Sejak itu, beberapa kali kami mendapati mimpi yang sama secara berbarengan.”

Storqowi berupaya berpikir keras sambil mengusap-usap janggutnya. Kerutan alisnya kelihatan lebih mencorong.

“Jika kau percaya mimpi itu memberi petunjuk, lalu mengapa kamu harus lari dari kenyataan itu?” Tanya Storqowi pada lelaki berkulit gelap yang jadi terkaget-kaget mendengarnya.

“Betul juga katamu.” Kata lelaki berkulit gelap yang baru terloloskan dari kagetnya. Segera saja ia menghambur pulang, dan menelepon perempuan berambut panjang untuk menceritakan semua pengalamannya, serta membuat janji untuk bertemu di kamarnya. Sambil menunggu, lelaki berkulit gelap mencoba menyusun andai-andai. Jika ternyata mimpi itu betul adanya, maka benar kata Storqowi, ia harus menghadapinya dengan tegar.

Ketika pintu kamarnya dibuka, lelaki berkulit gelap langsung menutup matanya, mencoba menabah-nabahkan diri lebih dulu. Sementara perempuan berambut panjang yang melihat lelaki berkulit gelap tak juga membuka matanya, tak ambil peduli dengan keadaan ini. Saat ini yang ada di pikiran dan hatinya hanyalah perasaan kangen. Maka langsung ditindihnya tubuh lelaki berkulit gelap kuat-kuat, seolah tak memberinya kesempatan buat meronta-ronta. Lagi pula, kalau saja kesempatan itu ada, lelaki berkulit gelap sedikit pun tak bakal meronta. Segera saja mereka terlibat dalam adegan persetubuhan yang sudah barang tentu basah, lengkap dengan suara desah dan lenguhnya, serta kilatan-kilatan peluh pada sekujur kulit mereka.

Akhirnya, ketika tak lagi tersisa tenaga dari tubuh keduanya, lelaki berkulit hitam memberanikan diri untuk membuka matanya dan melihat bahwa tak ada sedikit pun perubahan yang terjadi pada warna kulit mereka berdua. Maka ditempelkan lengannya pada lengan sang kekasih yang rebah di sisinya, Lalu dengan nafas masih memburu, dan kali ini kedua matanya berbinar-binar, ia berkata, “Lihatlah, betapa indah warna kita di bawah sekat keringat.” Mendengar itu, perempuan berambut panjang yang rebah di sampingnya merenggut kepala kekasihnya, dan membenamkan bibir lelaki berkulit gelap pada bibirnya.

Namun sedetik kemudian lelaki berkulit gelap seperti tersadar sesuatu dan langsung bangkit sekonyong-konyong.

“Ternyata mimpi itu tak bisa lagi dipercaya!” Seru lelaki berkulit gelap berapi-api.

“Ya, ia telah menghianati kita!”

“Jika begitu, takdir kita pun tak bisa lagi dipercaya!”

“Ya, ia telah menghianati kita!”

“Jika begitu, hubungan kita pun tak bisa lagi dipercaya!”

“Ya!”

Keduanya bergegas bangkit dan berpakaian. Mereka berjabat tangan dan saling berpelukan sambil mengucapkan salam perpisahan.

Ciputat 28 Juni 2006

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s