Menggugat Gambaran Guru dalam Sinetron Kita

jatoh

Tas hitam dari kulit buaya

…selamat pagi, berkata Bapak Umar Bakri

“Ini hari aku rasa kopi nikmat sekali

(Guru Umar Bakri, Iwan Fals)

Sejauh saya tahu, munculnya film Ada Apa dengan Cinta banyak memunculkan tren baru, terutama dalam dunia hiburan kita.  Di layar televisi, efek Ada Apa dengan Cinta ini muncul dalam bentuk membludaknya produksi sinetron-sinetron remaja.  Tren ini juga sebenarnya menjangkit di layar lebar, namun karena kapasitas produksi dan intensitas penayangannya relatif minim dibanding sinetron, maka tren ini lebih mencolok kita lihat di layar kaca. Hingga kini tradisi in masih marak, bahkan yang tadinya hanya memotret realita kehidupan anak SMA maka kini sudah menyelusup sampai SMP, bahkan SD. “Tayangan-tayangan rutin” ini, sudah tentu paling banyak mengambil seting kehidupan sekolah dan sekitarnya.

Dalam penggambaran kehidupan sekolah ini saya sering kali menemukan hal-hal mengganjal dalam batin saya ketika menyaksikan potret guru dalam tayangan-tayangan ini. Sosok para pendidik ini seringkali digambarkan sangat tidak manusiawi. Saya tak sedang membicarakan soal estetika sinetron-sinetron kita, karena ada beberapa alasan yang membuat saya terakhir mengacungkan jempol kepada Si Doel Anak Sekolahan garapan Rano Karno, tanpa mengurangi respek saya terhadap nama-nama seperti Deddy Mizwar yang juga sanggup menunjukkan mutunya. Saya membatasi untuk membicarakan pesan ceritanya saja.

Jangan merasa aneh jika kita melihat ada sosok kepala sekolah yang begitu bodohnya sehingga ketika hendak menegur sorang muridnya dia malah termakan oleh agitasi murid tersebut sambil mulutnya menganga dan kepalanya mengangguk-angguk. Kadang juga guru ditampilkan sebagai makhluk super galak yang seolah menutup setiap ruang dialog dari semua murid kepadanya. Ada juga penggambaran karakter guru yang secara fisik -maaf- jelek, tapi masih dibuat-buat sedemikian rupa sehingga kelihatan memuakkan. Memang saya sempat menyaksikan ada sosok-sosok pendidik yang ditampilkan dengan baik, tapi dalam potret guru ganteng atau cantik yang “dikejar-kejar” muridnya.

Pencitraan semacam ini saya yakin berakibat sangat dalam bagi kepribadian anak-anak usia sekolah yang paling banyak didakwahi iklan untuk memberhalai televisi. Hingga kini sesekali saya masih mengobrol dengan remaja seusia mereka (tetangga kos saya kebetulan memiliki dua anak SMP), meski tidak pernah melakukan penelitian metodis, tapi saya yakin telah melihat pergeseran pandangan murid pada gurunya. Dan saya percaya televisi adalah pihak yang paling bertanggung jawab terhadap hal ini.

Gambaran guru di kepala kita seringkali diasosiasikan dengan syair lagu Guru Umar Bakri, yakni kurang terurus kesejahteraannya (tas kulit buaya yang menggambarkan keawetan, cocok untuk orang bergaji rendah, sepeda kumbang). Namun setiap guru juga adalah manusia yang mempunyai sisi kehidupan pribadi masing-masing, dengan terang dan gelapnya. Artinya, bahwa ada guru yang memang betul-betul jahat, bermental korup, tidak berdedikasi, itu mungkin saja. Tapi untuk sosok guru sebagai sebuah institusi, kita tentu percaya terhadap metafor Iwan Fals dalam lagu di atas, “banyak ciptakan menteri”, dan “bikin otak orang seperti otak Habibie, karena jika tidak, siapa yang akan kita percaya untuk mendidik?

Saya percaya bahwa semua pihak harus memperlihatkan reaksi yang keras terhadap kenyataan ini, karena kita tahu seberapa besar kekuatan media, terutama televisi bagi masyarakat, terutama bagi generasi muda yang seringkali menjadikan televisi sebagai cermin tempat mematut dan mendapatkan citra diri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s