(Tidak) Indahnya Masa Kanak-kanak

mini_sparemoretime03

Baru-baru ini kita bisa menyaksikan gencarnya iklan sebuah stasiun televisi yang mengumumkan acara penganugerahan untuk para idola anak-anak. Betul, tidak ada yang aneh dengan acara untuk anak-anak, baik berupa lagu, film, sinetron, kuis, dan lain sebagainya yang khusus ditujukan kepada segmen anak adalah hal wajar. Bahkan hal itu termasuk hak mereka, yakni mendapatkan hiburan dan pendidikan dari berbagai media. Memang tidak ada yang aneh dari acara yang saya maksud di atas, kecuali para nominatornya yang berisi wajah-wajah orang dewasa. Sebelumnya kita juga menyaksikan acara rutin populer yang mengajak anak-anak berkompetisi dalam ajang asah dan adu vokal dengan format seperti reality show sejenis; penentuan pemenang lewat partisipasi penonton. Acara ini juga bukan anomali. Masalahnya adalah materi lagu yang dinyanyikan oleh para pesertanya kebanyakan adalah materi lagu untuk konsumsi dewasa.

Dua tayangan ini membuat saya mengeluh tentang betapa kurang perhatiannya kita dan media massa kita terhadap kebutuhan dan segmentasi penonton anak. Memang ada stasiun televisi yang mengkhususkan diri dalam segmentasi anak, tapi acaranya pun didominasi oleh sinema-sinema yang menurut saya lebih cocok untuk memenuhi kebutuhan hiburan anak, belum yang lain.

Saya tidak sempat menonton acara penganugerahan untuk idola anak yang saya sebut di atas, tapi saya sedih membayangkan betapa miskinnya sosok yang bisa diidolai anak-anak sekarang. Ketika saya seusia mereka dulu, memang banyak dari idola kami berasal dari kalangan dewasa, namun mereka berperan dan betutur dalam cara yang akrab dengan dunia kami. Sebut saja nama-nama seperti Kak Seto dan Pak Tino Sidin.  Sedangkan acara kompetisi vokal di atas, sesekali dan sekilas saya melihat sambil merasa teriris melihat anak kecil menyanyikan syair-syair yang hanya mungkin dimengerti dalam kerangka pandang dan pengalaman orang dewasa, paling tidak remaja. Saya kembali membandingkan ini dengan generasi saya yang masih punya lagu seperti Semut-semut Kecil, Keripik Singkong, dan lainnya. ada juga nama pencipta lagu seperti Papa T. Bob yang setia menghibur kami dengan lagu-lagu ciptaannya.

Saya merasa tidak punya kapasitas untuk membicarakan secara detail pengaruh hal yang saya keluhkan ini kepada kepribadian anak (kalau perlu tanya saja ke teman saya Rena Latifa yang S1 dan S2-nya psikologi), tapi saya yakin akibatnya negatif.  Karenanya saya jadi memikirkan kembali adagium “indahnya masa kanak-kanak”.

Iklan

2 responses to “(Tidak) Indahnya Masa Kanak-kanak

  1. Sepakat Max. Bahkan di Idola Cilik pun lagu2 yang dinyanyikan anak2 kebanyakan lagu2 untuk dewasa.

    Makki: Hussy… dilarang sebut merk!

  2. aku setuju,
    seharusnya selain mencari bakat vokal yang bagus dari diri anak-anak. juga perlu diperhatikan tema dan lirik lagu yang dinyanyikan.

    Makki: Memang mestinya begitu, Pak. Tapi masalahnya kita memang betul-betul kekurangan alternatif lagu untuk anak-anak. Jadi kalau mau disaring berdasar kelayakan konsumsi anak, sepertinya + 90% lagu yang mereka nyanyikan akan dianggap tidak layak.
    Sulit ya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s