Perlukah Berbahasa Indonesia yang Benar dalam Blog?

Ruang Baca Harian Tempo

Sumber: Ruang Baca Harian Tempo

Maraknya tren blogging dewasa ini nampaknya akan terus meningkat untuk beberapa tahun ke depan, paling tidak di negara kita. Even kumpul blogger yang digelar belum lama ini memperlihatkan tingginya animo masyarakat untuk memanfaatkan teknologi ini. Saya tidak tahu pasti jumlah pengelola blog di Indonesia. Apalagi mengingat banyak orang yang mengelola lebih dari satu blog. Konon pada awal kemunculannya, blog merupakan halaman web yang difungsikan layaknya buku harian pribadi. Hingga kini pun masih banyak orang yang memakainya dengan tujuan tersebut, namun kesadaran para pengelolanya terhadap potensi yang dimiliki blog pada saat ini telah berkembang jauh.

Pada satu sisi blog memiliki sifat mendasar dari media massa seperti koran dan majalah, yakni bisa diakses oleh orang banyak. Namun berbeda dengan media massa, blog menawarkan keterbukaan dan kebebasan yang luas bagi para pengelolanya. Media massa mesti melakukan editing terhadap materi yang dimuatnya, hal ini dilakukan paling tidak untuk keperluan pembakuan bahasa, pertimbangan keterbatasan tempat, serta penyesuaian materi dengan pandangan media tersebut. Pada blog, ketiga hal ini boleh dikesampingkan dengan semena-mena. Dengan sifat seperti ini, tak heran jika kita akan banyak menemukan ejaan-ejaan yang tidak mesti sesuai dengan EYD di berbagai blog.

Saya pernah menemukan kata-kata “ajaib” seperti “saiyah” untuk menulis “saya” di sebuah blog yang cukup terkenal. Kita juga dapat dengan mudah menemukan kesalahan-kesalahan ejaan seperti “disana”, “bagamana pun”, “pertanggung jawaban”, “mensosialisasikan”, “sekedar”, “dipungkiri”, “merubah”, dan seterusnya, di berbagai halaman. Namun tidak sedikit pula blogger yang masih memperhatikan tuntutan dan tuntunan EYD dalam setiap penulisan artikelnya. Bahkan ada blog polisiEYD yang berkutat pada kritik penggunaan bahasa Indonesia di masyarakat kita. Saya sendiri sejauh ini berprinsip untuk selalu mengikuti kaidah EYD dalam setiap penulisan artikel di blog. Jika ada tulisan yang keluar dari konstrain EYD, hal itu disebabkan oleh ketidaktahuan, atau kealpaan saya dalam mengedit. Selain itu, dengan pertimbangan tertentu saya memberikan dispensasi pada diri saya sendiri ketika menulis atau membalas komentar.

Pertanyaannya, perlukah kita menggunakan bahasa Indonesia yang benar ketika menulis di blog?

Sejauh ini saya telah melihat anjuran etis untuk berperilaku dengan baik bagi para pengelola blog, sebagaimana pernah ditulis oleh seorang blogger senior, Fatih Syuhud. Anjuran-anjuran semacam ini juga beberapa kali saya temukan di blog-blog lain yang menyediakan artikel-artikel tutorial bagi para blogger. Tuntunan etika ini biasanya diasumsikan juga bernilai pragmatis, yakni meningkatkan jumlah pengunjung blog kita. Namun sejauh ini saya belum banyak melihat anjuran untuk memerhatikan EYD bagi para blogger.

Penggunaan ejaan tak baku yang marak di blog menurut saya didorong oleh motivasi untuk menampilkan tulisan yang terkesan akrab dan personal. Motivasi ini patut kita sayangkan, karena: Pertama, jika hal ini didasarkan atas kesengajaan yang berdasar atas asumsi bahwa para pembacanya tidak cukup akrab dengan penggunaan bahasa yang baku, berarti penulis tidak berupaya melakukan edukasi terhadap para pembacanya. Kedua, jika hal ini dilakukan karena penulisnya tidak menguasai dengan baik tata-cara penggunaan bahasa Indonesia, maka bisa dikatakan bahwa selama ini ketika menulis ia tidak memiliki kesadaran untuk memperbaiki kemampuan berbahasanya.

Dalam hal motivasi untuk mengakrabkan diri dengan pembacanya, blog Eka Kurniawan yang saya langgan tiap kali mengakses internet bisa menjadi contoh yang menarik untuk disimak. Sebagai salah seorang sastrawan muda terbaik di negeri kita, Eka tentu saja terbiasa dengan disiplin berbahasa. Hal ini ditunjukkan pula dalam setiap penulisan artikel di blognya. Di tempat ini Eka menulis berbagai hal, mulai dari kecintaannya terhadap grup musik Guns and Roses, pengalaman mengikuti sebuah diskusi, sampai catatan perjalanan dan kegagalan pulang kampung. Sebagai seorang pengagumnya, wajar jika pada awalnya saya merasakan “jarak” dan inferioritas ketika membaca tulisan-tulisan di blognya. Namun kian sering saya mengikuti perkembangan blognya, kian kuat pula kesan Eka sebagai pribadi yang akrab dan santai. Hal ini, dalam hemat saya, disebabkan oleh gaya tulisan pengarang Cantik itu Luka ini yang mengalir dan ringan.

Bisa jadi kesan yang tersebut salah ketika diverifikasi dalam kenyataan, namun hal ini menunjukkan bahwa penggunaan bahasa yang sesuai dengan kaidah EYD sama sekali bukanlah halangan untuk mendekatkan diri dengan pembaca. Justru penggunaan bahasa “gaul” yang kerapkali meremehkan koherensinya dengan bahasa Indonesia, namun sering dipopulerkan lewat tv, akan mengurangi sentuhan pribadi dan nuansa tertentu yang dihasilkan dari orisinalitas gaya sang penulis. Hal ini disebabkan oleh sifat bahasa “gaul” yang tak berbeda jauh dengan slogan-slogan politik yang terlalu sering diucapkan, sehingga menjadi abstrak dan mengawang-awang, selain memang tak jelas batasan artinya.

Dengan pertimbangan tersebut, rasanya cukup pantas jika pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini dijawab dengan positif, apalagi jika kita sependapat dengan Wimar Witoelar yang berpendapat bahwa wahana blog berpotensi untuk menjadi media bagi citizenship journalism. Untuk membantu blog mencapai taraf tersebut, tentu saja salah satu hal mendasar yang mesti kita lakukan adalah memperbaiki kemampuan kita dalam penggunaan bahasa.

Saya pikir tuntutan agar masyarakat Indonesia menguasai tata-cara bahasanya, terutama bagi yang menulis untuk konsumsi umum, adalah hal yang wajar, karena ini memang menjadi bagian dari kegiatan komunikasi kita sehari-hari. Lagi pula dispensasi untuk berbahasa sesuka hati bagi kita cukup pada tataran bahasa lisan sehari-hari.

Ciputat, 15 Desember 2008

Iklan

7 responses to “Perlukah Berbahasa Indonesia yang Benar dalam Blog?

  1. Eh, jadi takut, jangan2 sebenarnya kalau nulis di blog aku enggak setertib itu 🙂

    Makki: Wuih, dikasih komentar sama idola. Terima kasih Mas Eka.

  2. Selamat Max, dapat komentar langsung dari Eka. Cerdik.

    Makki: Kadang memang diperlukan trik khusus untuk mencapai tujuan. Hahahaha

  3. Masukan yang berarti bagi saya. Kali pertama saya menulis di blog, saya ragu,dalam bahasa seperti apa saya akan menulis.

    Bagi saya sendiri, saya mungkin sudah lupa tatanan EYD. Maklum, masih belum mengerti betul waktu sekolah dan sekarang lupa.

    Dan saya berprinsip, belajar dari kandungan hingga liang lahat
    Terima kasih mas
    nb:minta ijin, boleh saya masukan ke blog ini ke blogroll saya.

    http://darwadi.wordpress.com

    Makki: Saya juga masih banyak belajar soal itu. Terima kasih kunjungan dan backlink-nya, Mas.

  4. Perlu ngga perlu sih… pasalnya, banyak yg masih menganggap bahwa blog adalah gerbong terakhir untuk mengekspresikan karya, kalau harus dibatasi sekat EYD malah tidak lepas dan natural.

    Makki: Wah, justru kalau alasannya begitu kita malah menunjukkan ketidakakraban kita dengan bahasa sendiri.

  5. komentar lagi, ya …
    banyak orang takut dengan EYD justru karena kesalahpahaman bahwa EYD=bahasa baku. Padahal EYD enggak ada hubungannya dengan bahasa baku. EYD merupakan sistem ejaan. Bahasa baku biasanya merujuk kepada bahasa di kamus. Kita bisa tetap mempergunakan bahasa gaul sekaligus tertib ejaan, kok!

    Makki: Waduh, tamu istimewa punya jatah tak terbatas untuk berkomentar. Hehehehe

    Ohya, terima kasih untuk mengingatkan, Mas. Saya pikir tulisan saya juga masih terjebak di miskonsepsi tersebut. Terima kasih lagi untuk mengingatkan.

  6. jika saya boleh menambahkan, mungkin bukan semata EYD tapi pemahaman yang baik dari si bahasa Indonesia itu sendiri. sebab, saya menyadari fakta bahwa masih banyak kosa-kata di dunia “per-blog-an nusantara” (nah, ini juga istilah ajahib, sebab saya yang menulis ^.^) yang belum dibudayakan padanan katanya. semacam : linkback, blogroll, download – padahal sudah ada kata mengunduh. bahkan, anda sendiri menulis kata “even” – bukannya itu kata “event” dari kosakata basa Nginggris yah?

    hehe, dtg tiba2 sok tau pulak…

    yang jelas : HIDUP BAHASA INDONESIA. LESTARIKAN BAHASA INDONESIA. BANGGA AKAN BAHASA INDONESIA.

    amin…

    Makki: Saya senang dengan komentar Mbak. Terimakasih juga dengan kritiknya. Hahaha, maklum ngenetnya masih dikejar tarif, jadi kadang terburu-buru. Jangan segan mampir lagi.

  7. Saya termasuk penganut EYD yang patuh. Saking patuhnya, kesalahan terasa kian banyak, sebab demikian barangkali takdirnya: makin patuh, makin banyak aturan. Patuh tak lantas membuat ‘aturan’ menjadi tak penting atau tak dibutuhkan lagi. Hehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s