“Perangkap Pangan”: Cara Cepat Mendikte Indonesia

Les Elephants-Salvador Dali-

Les Elephants-Salvador Dali-

Tampaknya kita harus memikirkan kembali gambaran tentang negeri ini yang penuh dengan imaji kemakmuran, kesuburan, dan kekayaan. Benar, bahwa negara ini merupakan salah pemilik tanah tersubur, beserta kekayaan sumber daya alam yang terkandung di dalamnya. Jika tidak, mana mungkin negara-negara Eropa dan Amerika sampai kini begitu ngotot menguncar setiap jengkal dari wilayah kita, hingga segala yang terkandung di dalam perut buminya.

Namun hal ini menjadi tidak relevan di depan fakta bahwa bangsa kita telah terjerumus ke dalam “perangkap pangan”, sebagaimana disebut harian Kompas (01/09/08). Istilah “perangkap pangan” ini digunakan Kompas untuk menggambarkan ketergantungan negara kita terhadap komoditas pangan impor. Relevansi istilah ini dapat dilihat dari kasus kelangkaan kedelai di Indonesia beberapa bulan lalu.

Dapat dibayangkan buruknya kondisi ketahanan pangan kita jika tercatat bahwa empat dari tujuh komoditas pangan utama nonberas, yang meliputi kedelai, gandum, ayam ras, daging, telur ayam, jagung dan susu, sudah dikuasai dan dipasok oleh perusahaan multinasional (MNCs) asal Amerika dan Eropa. Dalam praktiknya kita tahu bahwa perusahaan-perusahaan semodel ini memang selalu menjadikan wilayah Asia dan Afrika sebagai tempat produksi, sumber pekerja, sekaligus target konsumsi mereka. Hal ini sudah berlangsung sejak tercetusnya revolusi industri di Inggris berabad lampau.

Memang negara-negara besar dengan korporasinya merupakan kekuatan yang mengonstruksi fenomena ini. Namun kondisi seperti ini tak bisa dilepaskan dari andil kebijakan-kebijakan pemerintah yang seringkali tanpa orientasi. Kebijakan penghapusan bea masuk impor gandum dan kedelai, dalam jangka waktu pendek memang dapat memberikan efek positif seperti turunnya harga dan teratasinya kelangkaan. Namun efek jangka panjangnya tentu akan lebih buruk bagi petani dan pengelola lahan yang tentu saja tidak memiliki modal dan daya saing sebanding dengan perusahaan-perusahaan multi nasional.

Pasar bebas dan dominasinya

Sistem ekonomi pasar bebas yang dianut oleh negara-negara maju menegakkan prinsip sterilisasi campur tangan pemerintah terhadap dinamika pasar. Dengan prinsip ini bahkan kelangsungan kepemerintahan pun disponsori oleh perusahaan-perusahaan multinasional. Dalam kondisi begini tak heran jika argumentasi penumpasan terorisme yang dipakai Amerika untuk menyerang Irak juga dibumbui dengan kepentingan perusahaan-perusahaan multinasional untuk mengakuisisi sumber-sumber minyak di negara tersebut. Dengan prinsip seperti ini maka tak heran jika negara-negara maju memberikan subsidi berlimpah terhadap bidang industri vital seperti sumber energi dan pangan.

Dampak kebijakan ini sangat terasa bagi negara-negara miskin dan berkembang seperti Indonesia. Para petani, pengolah lahan serta pengusaha kecil yang seringkali menjadi korban dari kebijakan negara yang tidak menguntungkan juga harus berhadapan dengan kekkuatan modal asing yang skalanya sangat tidak sebanding dengan mereka. Hal ini masih ditambah dengan hadirnya pasar ritel seperti Carrefour yang mendominasi pemenuhan kebutuhan terhadap makanan berkualitas.

Dengan skema seperti ini, bukan hal yang sulit bagi negara-negara maju untuk menegakkan dominasi mereka terhadap negara-negara dunia ketiga. Intervensi-intervensi politik terhadap suatu negara tidak lagi mesti ditegakkan melalui jalan senjata, namun cukup dengan mempermainkan persediaan atau harga komoditas pangan yang dikonsumsi dalam jumlah besar di negara tersebut.

Upaya keluar dari jerat perangkap ini bukanlah hal yang mudah. Diperlukan usaha yang cukup lama untuk sedikit demi sedikit mengurangi persentase ketergantungan kita terhadap komoditas asing. Hal ini tentu mesti dibarengi dengan upaya pemerintah untuk menyusun aturan-aturan yang konsisten dan menguntungkan bagi para petani dan pelaku industri kecil. Upaya ini tentu saja masih akan berhadapan dengan kepentingan perusahaan-perusahaan multinasional yang sudah barang tentu tidak mau kehilangan sumber daya dan pasarnya sekaligus.

Ciputat, 23 Desember 2008

Iklan

2 responses to ““Perangkap Pangan”: Cara Cepat Mendikte Indonesia

  1. Betul mas.. hampir semua lapisan sudah terjebak dengan ini semua dari “bayi” de ngan Susu-nya hingga orang tua.

    Dari “petani yang miskin” terjebak dengan pupuk kimia.. Bahkan konglomerat 🙂

  2. Apa boleh buta..eh..apa boleh buat kalau emang kondisi bangsa kita seperti ini.
    Ketergantungan dari segi aturan-aturan mungkin bisa sedikit demi sedikit dikurangi. Namun juga ketergantungan yang sudah membudaya juga harus ditangani perlahan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s