Menolak Arabisasi Islam Indonesia

Sampai kini kita sepakat bahwa para propagandis Islam paling berhasil sepanjang sejarah Nusantara adalah ulama-ulama legendaris yang kelompoknya lazim disebut sebagai Wali Songo. Meski mereka tidak bisa sepenuhnya dipandang sebagai kelompok yang utuh, dalam artian memiliki komando dan aturan bersama yang jelas dan teratur, namun cara mereka berdakwah menunjukkan modus yang hampir mirip, yakni menekankan hibridisasi antara nilai-nilai keislaman dengan budaya dan kearifan lokal.

Ada yang memanfaatkan wayang kulit untuk upaya publikasi dan edukasi nilai-nilai keislaman, ada juga yang memakai alat musik untuk merayu orang masuk ke masjid, bahkan ada yang berpartisipasi dalam sabung ayam demi mendapat nilai-nilai ketokohan dalam masyarakat, sehingga lebih mudah untuk memengaruhi orang lain. Pola-pola seperti ini sebetulnya bukanlah hal yang aneh jika kita melihat fakta begitu beragamnya corak keislaman di berbagai penjuru dunia. Mungkin karena faktor kemajemukan sub kultur Nusantaralah yang membuat proses ini terlihat begitu mencolok. Sebetulnya sejak zaman Nabi pun proses seperti sudah terjadi dengan sendirinya.

Teknik “persilangan” ini, karena menekankan pada simbol-simbol kebudayaan lokal, kemudian menghasilkan corak keberagamaan yang unik dan khas dari masyarakat kita. Banyak contoh yang bisa diambil untuk menggambarkan hal ini. Misalnya istilah “sembahyang”, “puasa”, “sekaten”, merupakan pengaruh dari ritual keagamaan pra Buda dan Hindu di Nusantara. Pemisalan lain, sarung, bentuk masjid yang tak berkubah, bedug, dan banyak hal lain, merupakan entitas yang khas Nusantara. Melihat fakta ini, maka bukan kebetulan dan tidak mengherankan jika pesantren-pesantren yang berumur cukup tua lebih suka mengambil nama lokal, dan bukan dari bahasa Arab. Tengok saja nama-nama seperti Tebuireng, Ngalah, Lirboyo, Buntet, dan sebagainya.

Gerakan Wahabi di Indonesia

Hibridisasi Islam dan lokalitas tersebut berjalan mulus sampai munculnya corak-corak baru yang mengusung semboyan purifikasi agama ala Wahabi. Setahu saya gerakan yang dikomandoi Imam Bonjol bisa dikatakan sebagai generasi awal dalam hal ini. Imdadun Rakhmat bahkan mengatakan bahwa upaya purifikasi sebenarnya telah diusahakan oleh Nuruddi al-Raniri terhadap pola religiusitas ala Hamzah Fansuri yang berhaluan tasawuf. Dalam bentuk organisasi, pola keberagamaan ala Wahabi ini sempat diteruskan oleh organisasi Muhamadiyah.

Tanpa melihat setting sejarah seperti ini kita akan kesulitan memahami mengapa Nahdatul Ulama (NU) yang secara genealogis jauh lebih tua, namun secara organisasi usianya justru lebih muda ketimbang Muhamadiyah. Karena secara organisasi NU memang lahir sebagai reaksi atas usaha purifikasi yang dilancarkan oleh Muhamadiyah. Saat ini Muhamadiyah sudah bersifat lebih terbuka. Mereka tidak lagi terlalu memermasalahkan soal-soal seperti ziarah kubur atau tahlil, paling tidak pada tingkatan organisasinya.

Namun tidak berarti dengan lebih terbukanya Muhamadiyah upaya purifikasi ala wahabi ini tak lagi terjadi. Saat ini justru bermunculan organisasi-organisasi, baik yang berbentuk ormas atau pun partai politik, bercorak wahabi yang melakukan upaya yang cukup gencar. Pada umumnya mereka banyak menonjolkan simbol-simbol kearaban yang dianggapnya bersifat Islam, seperti memelihara jenggot, rajin memakai istilah berbahasa Arab, seperti “ana”, atau “antum”, sampai pewajiban cadar bagi perempuan. Dalam kajian-kajian keislaman, faham-faham semacam ini dinamai dengan istilah-istilah seperti fundamentalisme, revivalisme, dan lain sebagainya.

Pasca kemerdekaan Mohammad Natsir tercatat sebagai tokoh yang bisa dianggap memberikan ruang-ruang baru bagi para revivalis Islam. Salah satu “buah karya” Natsir yang masih langgeng hingga saat ini adalah forum-forum Lembaga Dakwah Kampus (LDK) yang tersebar di berbagai perguruan tinggi (Imdad, 2008). Forum-forum semacam ini bahkan sudah sejak lama melakukan infiltrasi  ke sekolah-sekolah, terutama sekolah umum, melalui bentuk Rohis.

Secara umum saya menganggap bahwa upaya purifikasi kehidupan keagamaan sangat kental dengan pengidentikkan simbol-simbol keislaman sebagaimana berlaku di tanah Arab. Hal ini bukan saja hendak menafikkan unsur-unsur lokalitas dalam nilai keagamaan, tapi juga meloloskan nilai historis dan kontekstualisasi Islam. Dengan pola semacam ini, tak heran banyak orang menganggap bahwa kelompok-kelompok revivalis memiliki agenda tersembunyi untuk mengubah wajah negara dan masyarakat setempat secara radikal, sesuai dengan corak keislaman yang mereka anut. Hal ini justru sering diafirmasi dengan kampanye syariat Islam, sistem kekhalifahan, serta hal-hal semacamnya, yang sering mereka dengungkan. Pandangan semacam ini seringkali menyulut kerenggangan hubungan antara umat Islam dengan negara. Pada era orde baru hal ini pernah terjadi cukup lama.

Menolak arabisme Islam

Kenapa harus menolak Arabisasi Islam? Secara pribadi saya memiliki beberapa alasan untuk melakukannya. Meski begitu alasan-alasan ini saya usahakan agar bisa dipertanggungjawabkan secara argumentatif, sehingga tidak berhenti sekadar sentimen belaka.

Kemajemukan tradisi Nusantara adalah alasan pertama. Sejarawan Agus Sunyoto mengatakan bahwa Islam telah menyapa Nusantara jauh sebelum era Wali Songo, namun ajaran ini perlu menunggu kehadiran mereka untuk membuatnya jadi ajaran yang populis. Strategi hibridisasi nilai-nilai Islam dengan budaya setempat yang digagas oleh Wali Songo terbukti hingga saat ini masih menjadi cara yang paling efektif.

Pada awal abad 20, ketika tokoh seperti Soekarno dan Hatta, bahkan Tan Malaka, belum sempat berpikir tentang sebuah entitas bernama Indonesia, KH. Hasyim Asyari dengan sadar sudah memiliki gambaran tentang wilayah yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Hal ini bisa dijadikan ilustrasi untuk menakar seberapa besar pengaruh Wali Songo di Nusantara.

Kemajemukan nilai-nilai tradisi ini merupakan sebuah nilai yang disadari. Hal ini membuat setiap pengaruh kebudayaan yang masuk ke Nusantara akan terlebih dahulu mengalami negosiasi dengan tradisi lokal sebelum mendapatkan tempat dengan baik (Masdar F. Masudi, 2009). Kita bisa melihat ini pada semua agama di Nusantara yang selalu memiliki karakteristik khas dibanding bangsa lainnya. Kemajemukan ini bukanlah hal yang mesti dilawan dengan label tahayul, bidah dan khurafat, tapi diposisikan sebagai sebuah karakter yang memiliki hak hidup dan karenanya mesti diapresiasi, bahkan dirayakan.

Alasan kedua, apresiasi terhadap kemajemukan bukanlah suatu hal yang kasuistik, artinya khusus berlaku untuk bangsa yang plural seperti Indonesia saja. Beberapa hari lalu saya mendengarkan sebuah ceramah dari KH. Masdar F. Masudi. Ia mengangkat satu hadis Nabi yang jarang sekali disebut, paling tidak saya baru kali ini mendengarnya. Secara substansial hedis tersebut mengibaratkan nabi-nabi sebelumnya sebagai sebuah bangunan indah namun kekurangan satu bata. Muhammad mengatakan bahwa dirinyalah bata pelengkap tersebut.

Kerendahhatian Nabi kita ini penting. Ia tidak mengatakan bahwa ajarannya adalah bangunan baru yang lebih indah atau lebih baik, ia seolah hendak menampik anggapan bahwa Islam adalah agama totaliter yang hendak memberangus semua agama dan budaya yang mendahuluinya. Hadis ini seperti semacam garansi tanpa kadaluarsa bagi eksistensi budaya-budaya yang eksis sebelum kehadiran Islam, termasuk yang ada di Nusantara

Alasan ketiga, dalam hal kehidupan berpolitik, sebagaimana disebut sebelumnya, pandangan islamisme yang cenderung wahabistik kerapkali menyulut ketegangan antara umat muslim (baca: kelompok wahabi) dengan Negara, terutama yang menganut demokrasi. Hal ini tentu saja berakar dari pandangan ekslusif dan diskriminatif dari kelompok ini. Kita memang tidak bisa membenarkan kebijakan orde baru yang pernah bersikap keras terhadap umat Islam, tapi fakta ini bisa dijadikan contoh betapa ajaran Islam yang dipresentasikan dengan agresif, bahkan sampai menganjurkan perubahan tata kemasyarakatan dan kenegaraan, dipandang oleh pihak lain sebagai ancaman. Bagimanapun kita tidak sudi agama yang kita yakini dipandang miring oleh orang lain

Saya pikir ketiga alasan itu cukup memberi pijakan, paling tidak bagi saya, untuk menimbang kembali pengaruh wahabisme dalam pemahaman keagamaan kita, serta cara kita memandang budaya Nusantara.

Iklan

17 responses to “Menolak Arabisasi Islam Indonesia

  1. Tulisanmu dan pendapatmu selalu berbobot. Sayang kamu tergolong malas dan angin-anginan dan tidak tahu prioritas.

  2. Bukankah wahabi juga bagian dari pluralitas dan memiliki hak hidup yang mesti dihormati dalam demokrasi?

    Makki: Tepat sekali. Yang menjadi masalah jika mereka menumpang kebebasan dari demokrasi tapi punya misi anti demokrasi.

  3. waahhh pandangan yang bagus,.. saya sependapat mas,..!!

  4. kamaki…
    sebagai seorang pria ber-wanita muhammadiyah, saya berfikir bahwa hal-hal berupa penyadaran akan “islam” memang merupakan salah satu dakwah…

  5. Indonesia emang Unix, bukan linux lho..:)
    Sampe sekang pun masih tetap unix

    Sampe ada yang ngaku” Tuhan segala

  6. kayaknya masalah wahabi ini tidak saja masalah kulturisasi itu, wahabi ini sangat memisahkan masalah alam ghaib dari agama, masalah rasa berTuhan dan rasa kehambaan, masalah cinta pada Allah dan Rasul sudah tidak ada pada wahabi ini, mereka buang itu, menjadikan agama dan ibadah itu hanya lahiriah saja..menjadikan agama itu kering…

  7. ratno tri ahmadi

    Saya paham, termasuk golongan mana Anda berada.

    Sesungguhnya agama asli dari moyangku bukanlah islam, Tetapi walisongo si pemelihara jenggot itu telah memiliki banyak pengikut sampai hari ini.

    Lebih gila lagi si surban putih berjenggot dari jogjakarta hendak menghabis ludeskan agama moyangku.

    Seandainya mereka bersepuluh hari ini berdiri dihadapanku……………………………………..!!!.

  8. Agama boleh berubah dari hindu jadi islam atau apapun, tapi jangan mau di jadikan budak orang2 arab
    Kita pewaris kekaisaran majapahit, salah satu peradaban terkuat di muka bumi…jangan mau jadi budak….jangan mau lupa sama leluhur kita sendiri….

  9. indonesia sekarang menjadi negara yang latah

  10. Hadits-hadits yang memberitakan akan datangnya Faham Wahabi.

    Sungguh Nabi s a w telah memberitakan tentang golongan Khawarij ini dalam beberapa hadits beliau, maka hadits-hadits seperti itu adalah merupakan tanda kenabian beliau s a w, karena termasuk memberitakan sesuatu yang masih ghaib (belum terjadi). Seluruh hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih BUKHARI & MUSLIM dan sebagian yang lain terdapat dalam selain kedua kitab tsb. Hadits-hadits itu antara lain:

    1. Fitnah itu datangnya dari sini, fitnah itu datangnya dari arah sini, sambil menunjuk ke arah timur (Najed-pen ).

    2. Akan muncul segolongan manusia dari arah timur, mereka membaca Al Qur’an tetapi tidak bisa membersihkannya, mereka keluar dari agamanya seperti anak panah yang keluar dari busurnya dan mereka tidak akan kembali ke agama hingga anak panah itu bisa kembali ketempatnya (busurnya), tanda-tanda mereka bercukur kepala (plontos – pen).

    3. Akan ada dalam ummatku perselisihan dan perpecahan kaum yang indah perkataannya namun jelek perbuatannya. Mereka membaca Al Qur’an, tetapi keimanan mereka tidak sampai mengobatinya, mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari busurnya, yang tidak akan kembali seperti tidak kembalinya anak panah ketempatnya. Mereka adalah sejelek-jelek makhluk, maka berbahagialah orang yang membunuh mereka atau dibunuh mereka. Mereka menyeru kepada kitab Allah, tetapi sedikitpun ajaran Allah tidak terdapat pada diri mereka. Orang yang membunuh mereka adalah lebih utama menurut Allah. Tanda-tanda mereka adalah bercukur kepala (plontos – pen).

    4. Di Akhir zaman nanti akan keluar segolongan kaum yang pandai bicara tetapi bodoh tingkah lakunya, mereka berbicara dengan sabda Rasulullah dan membaca Al Qur’an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka, meraka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, maka apabila kamu bertemu dengan mereka bunuhlah, karena membunuh mereka adalah mendapat pahala disisi Allah pada hari kiamat.

    5. Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al Qur’an namun tidak sampai mengobati mereka, mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur kepala (plontos – pen).

    6. Kepala kafir itu seperti (orang yang datang dari) arah timur, sedang kemegahan dan kesombongan (nya) adalah (seperti kemegahan dan kesombongan orang-orang yang) ahli dalam (menunggang) kuda dan onta.

    7. Dari arah sini inilah datangnya fitnah, sambil mengisyaratkan ke arah timur (Najed – pen).

    8. Hati menjadi kasar, air bah akan muncul disebelah timur dan keimanan di lingkungan penduduk Hijaz (pada saat itu penduduk Hijaz terutama kaum muslimin Makkah dan Madinah adalah orang-orang yang paling gigih melawan Wahabi dari sebelah timur / Najed – pen).

    9. (Nabi s a w berdo’a) Ya Allah, berikan kami berkah dalam negeri Syam dan Yaman, para sahabat berkata: Dan dari Najed, wahai Rasulullah, beliau berdo’a: Ya Allah, berikan kami berkah dalam negeri Syam dan Yaman, dan pada yang ketiga kalinya beliau s a w bersabda: Di sana (Najed) akan ada keguncangan fitnah serta disana pula akan muncul tanduk syaitan.

    10. Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al Qur’an namun tidak sampai membersihkan mereka. Ketika putus dalam satu kurun, maka muncul lagi dalam kurun yang lain, hingga adalah mereka yang terakhir bersama-sama dengan dajjal.

    Dalam hadits-hadits tsb dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur kepala (plontos – pen). Dan ini adalah merupakan nash atau perkataan yang jelas ditujukan kepada kaum khawarijin yang datang dari arah timur, yakni para penganut Ibnu Abdil Wahab, karena dia telah memerintahkan setiap pengikutnya bercukur rambut kepalanya hingga mereka yang mengikut kepadanya tidaklah dibolehkan berpaling dari majelisnya sebelum melakukan perintah tsb (bercukur – plontos). Hal seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya dari aliran-aliran SESAT lainnya. Oleh sebab itu, hadits-hadits tsb jelas ditujukan kepada mereka, sebagaimana apa yang telah dikatakan oleh Sayyid Abdurrahman Al-Ahdal, seorang mufti di Zubaid. Beliau r a berkata: “Tidak usah seseorang menulis suatu buku untuk menolak Ibnu Abdil Wahhab, akan tetapi sudah cukup ditolak oleh hadits-hadits Rasulullah s a w itu sendiri yang telah menegaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul), karena ahli bid’ah sebelumnya tidaklah pernah berbuat demikian selain mereka.”

  11. Islam itu seperti air. Di mana ia berada, begitulah bentuknya, tanpa mengurangi sedikitpun hakikatnya. Bahkan ketika ia berubah nama.

  12. nyari jodoh di sini ada?

  13. Islam itu rahmatal lia alamin, cocok untuk semua negeri, artinya islam itu bisa diikuti oleh semua negeri, tidak sukar. yg bikin sukar itu jika kita tidak mau mengikuti islam dengan alasan bertenangan dengan adat budaya bangsa. arabisasi itu contohnya sorban, jubah dan buktinya hal ini diikuti justru kebanyakan dari kalangan NU. sementara jenggot itu perintah rasul jelas dalam kitab kitab hadis bukhari muslim begitu banyak bukannya arabisasi yang justru yg alergi malah NU. yang perlu didalami adalah apakah setiap fenomena yg terjadi di ummat Islam itu sudah sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadis, ijmak dan Qias apa tidak, kalau sesuai berarti bukan arabisasi kalau tidak ada hubungan syariat islam berarti itu arabisasi. dan arabisasi pun sah sah saja asal tidak bertentangan dengan agama yang dianut dan tidak merugikan kehidupan berbangsa dan bernegara. karena kalau kita mau jujur budaya kita yg sekarang bukanlah budaya asli karena budaya asli kita adalah telanjang alias bugil kemudian datanglah peradaban dari luar yg mewarnai budaya kita sehingga terciptalah budaya kita yg sekarang. jangan sampai kita suatu saat nanti mengatakan jilbab itu budaya arab memang betul budaya arab tapi karena kita sudah seagama dengan arab yg mewajibkan jilbab maka jilbab juga menjadi budaya nusantara da kalau mau didalami lagi jilbab juga bukan budaya arab sebab budaya arab jaman dulu jusru mempertontonkan pusar, pantat dan dada.

  14. Indra Ganie - Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Banten

    Mengenang 70 tahun (1945-2015) Proklamasi 1945, yang menyatakan kehendak bangsa Indonesia untuk menentukan nasib sendiri, antara lain membentuk negara untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan : berdaulat dibidang politik, berdikari dibidang ekonomi dan berkepribadian dibidang kebudayaan.

    Imperialisme Arab di Indonesia Sudah Jelas?

    Disadari atau tidak seakan jelas bahwa kaum Arablah sebenarnya
    sekarang yang sedang menjajah Indonesia. Lihat, sejumlah orang pemimpin alim ulama negeri ini adalah keturunan Arab. Gerombolan bolot yang ditangkap aparat tempo hari terdapat orang bertitel habib. Para habib-habib ini disebut-sebut sebagai keturunan Nabi Muhammad, dan gelar habib ini telah menjadi sebuah tiket untuk mendapat perlakuan khusus. Tidak tahu kenapa keturunan nabi harus dihormati walaupun perilakunya banyak yang tidak terpuji. Janggut nabi saja ditiru konon pula keturunannya tidak disanjung tinggi.

    Mungkin pembawa agama-agama yang lain beruntung tidak mempunyai keturunan, sehingga arogansi karena mengklaim diri sebagai keturunan nabi tidak merajalela di bumi ini.

    Bayangkan, negara yang sudah dinyatakan merdeka sejak 1945
    ternyata masih dalam imperialisme ASIA BARAT (ARAB), bukan BARAT. Selama ini berbagai isyu tentang neokolonialisme Barat ditiup-tiupkan dengan gencar, opini bangsa digiring untuk membenci Barat. Ternyata ini semua pekerjaan musuh dalam selimut, selimut agama. Kemajuan teknologi dan perekonomian Barat dan perkembangan bisnis yang sedemikian pesat serta cara hidup ala Barat yang praktis sangat gampang ditiru. Hal ini telah diperhitungkan sebagai ancaman yang mengerikan dalam pandangan imperialisme Arab ini, sehingga isu neokolonialisme Barat dan Kristenisasi dihembuskan untuk keuntungan imperialisme Arab. Segala yang berbau Barat dikelompokkan sebagai peradaban kaum kafir oleh karenanya menjadi sesuatu yang haram. Orang tua termasuk guru-guru agama menjadi unjung tombak penyampaian keharaman yang berbau Barat ini. Sebagian besar orangtua di Indonesia memang relatif
    masih sangat muda-muda. Baru punya sedikit janggut, lelaki sudah
    boleh mengajak perempuan “anak baru gede” untuk menghadap penghulu. Tidak perduli apakah dia sudah matang atau belum untuk mendidik anak dan memberikan anaknya makan kelak. Mereka rata-rata tidak berpendidikan yang cukup sehingga tidak dapat berpikir rasional. Jadi begitu ada hasutan dari orang-orang yang mengaku ahli agama, mereka langsung tunduk sukarela, apalagi kalau disuplai uang pula.

    Perdebatan diharamkan, teristimewa perdebatan soal agama, tidak tersentuh. Melakukan sesuatu atas nama agama seperti kerbau dicucuk hidung, tidak punya daya kritis sama sekali.

    Melihat gampangnya sebagian besar anak bangsa ini dipengaruhi atas nama agama, adalah pengaruh indoktrinasi bahwa agama tidak boleh diperdebatkan. Para kaum Arab ini tidak mengajarkan agama itu sebagaimana seharusnya. Agama yang disampaikan tidak untuk menjadi pencerahan otak bagi umat, tetapi cenderung menjadi pembodohan. Tujuan mereka memang adalah untuk menjajah, bukan untuk memanusiakan manusia dengan ajaran agama.

    Seandainya bangsa ini mendapat pendidikan agama dengan benar serta dari sumber yang benar, tidak akan mungkin ada yang bernama Front Pembela Islam, Jama’ah Ansharut Tauhid, Laskar Jihad, dan lain-lain
    gerombolan bolot yang lebih bangga menjadi anggota kesatuan organisasi
    ekstrimis Islam Asia Barat / Timur Tengah daripada sebagai Islam Indonesia. Tidak mungkin orang yang bernama habib-habib itu menjadi alim ulama dan pemimpin gerombolan bolot di negeri ini. Sialnya, kesempatan untuk berfikir kritis terhadap agama sudah dipunahkan sejak awal. Sehingga dengan gampang anak-anak bangsa yang kurang pendidikan dan hidup kekurangan ini digiring untuk menjadi ekstrimis dan tunduk sukarela menjadi budak para Arab untuk mewujudkan ambisi mereka untuk meng-Arab-kan Indonesia.

    Kemiskinan dan kebodohan ini telah dimanfaatkan, sebagian besar anak
    bangsa ini sudah lebih bangga mampu berbahasa Arab daripada mampu
    berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Lebih bangga memakai gamis
    di jalan-jalan daripada memakai pakaian tradisional yang diwariskan leluhur bangsa Indonesia.

    Apakah kita sudah sangat terlambat untuk membuang semua peradaban Arab dari bumi Indonesia ini? Saya fikir tidak ada istilah terlambat untuk
    membuang kebolotan. Kita tidak boleh menjadi bangsa yang bolot. Saya
    melihat tidak satupun peradaban Arab yang memberikan kontribusi terhadap pembangunan bangsa ini dalam bidang apapun. Yang diberikan mereka hanyalah pembodohan, pembolotan, membuat orang tinggal manut.

    Jika kita boleh bandingkan – maaf – dengan kehidupan orang Kristiani Indonesia, misalnya. Mereka boleh menjadi orang yang sangat taat beragama, tetapi hidup kesehariannya tetap menjadi orang Indonesia. Mereka tidak langsung mengubah cara hidupnya seperti bagaimana dulu Yesus hidup secara lahiriah. Padahal seharusnya, sosok Yesus yang gambarnya ada dimana-mana sangat mudah untuk ditiru, tetapi tidak satupun penganut agama Kristiani meniru cara berpakaian Yesus, meniru janggotnya atau keriting rambutnya. Yang mereka praktekkan adalah kasih sayang yang diajarkan Yesus, bukan tampilan Yesus secara lahir.

    Orang Bali Kristiani tetap dengan budaya Balinya, demikian juga Batak,
    Toraja, Jawa dan lain-lain. Mereka tetap tampil sebagai orang Indonesia, mereka beribadah dalam bahasa asalnya masing-masing, bahasa China, Batak, Sunda, Bali, Jawa, dan lain-lain. Malah tidak ada gereja yang berbahasa Ibrani di Indonesia, sebagaimana dulu Yesus mempergunakan bahasa itu mengajar murid-muridnya. Kristiani tetap menghargai budaya asal pemeluknya tanpa sama sekali menerapkan budaya Yesus (budaya Yahudi / Israel). Pemeluk Kristiani dari suku apapun diterima sebagai pribadi yang merdeka, secara lahir mereka tetap sebagaimana asalnya, yang diubahkan adalah kehidupan spiritualnya, jiwanya.

    Sebelum bangsa ini benar-benar hilang, sebelum identitas kita sebagai
    bangsa Indonesia tergantikan oleh identitas Arab, mari kita berbenah.
    Mengikis segala bentuk penjajahan dalam setiap bentuknya di bumi Indonesia ini. Jangan lengah dengan penjajah yang bertopeng agama, bercerminlah kepada penganut agama-agama lain di Indonesia, mereka lebih hidup merdeka sebagai bangsa Indonesia walaupun mereka menganut salah satu agama yang semuanya adalah agama import. Jangan biarkan Arab-arab itu memimpin kerohanian anda, bangsa ini sudah mengenal Islam ratusan tahun, sudah seharusnya ada Islam yang berkepribadian Indonesia, bukan berkepribadian Arab.

    Indonesia dengan wilayah yang luas, alam yang kaya, letak yang strategis serta jumlah penduduk yang sedemikian besar terbelakang memang adalah sasaran empuk untuk dijadikan sekutu. Bangsa Arab dan
    segala bangsa-bangsa di dunia sadar akan hal itu. Bangsa-bangsa besar di dunia ini melihat potensi yang dimiliki Indonesia. Dahulu Belanda datang
    dengan cara kasar menjajah Indonesia, demikian pula Jepang. Nah,
    bangsa Arab, dengan sangat licik masuk menjajah Indonesia dengan
    memperalat agama Islam, dengan sifat religius yang dimiliki Indonesia,
    bangsa ini begitu saja mengamini semua apa yang dikatakan bangsa Arab
    sehingga banyaklah bangsa ini menjadi orang-orang tertipu. Mereka
    berfikir telah menganut agama Islam yang benar, tidak tahunya hanya
    menganut budaya Arab yang sarat dengan kekerasan, keberingasan. Musuh yang menikam dengan senyuman manis adalah lebih berbahaya daripada yang menikam dengan amarah.

    Mungkin sulit dipercaya atau sedikit diketahui, bahwa imperialisme Arab di wilayah yang kini masuk “Negara Kesatuan Republik Indonesia” telah berlangsung sejak abad-7. Pada abad tersebut telah terdapat sejumlah koloni Arab di negeri ini. Mereka datang karena negeri ini relatif lebih nyaman dibanding negeri sendiri. Sebagian besar dunia Arab kering kerontang, sering terjadi perang antara lain perang saudara. Konflik antar dinasti semisal ‘Abbasiyyah, ‘Ummayyah dan Fathimiyyah – yang nota bene ketiganya masih terhitung keluarga besar nabi – adalah fakta yang sulit dibantah. Begitu pula konflik dengan bangsa lain semisal perang salib (1095-1291) dan perang kolonial sejak abad-16.

    Mengingat jarak antara Nusantara dengan Arabia yang terbilang jauh dan terpisah laut luas, maka kolonisasi Arab di Nusantara tidaklah semasif dan secepat apa yang mereka lakukan di Afrika dan Eropa. Mereka hadir secara berangsur-angsur di wilayah yang umumnya relatif jauh dari pusat kekuasaan / kerajaan penduduk setempat, semisal di pesisir Minangkabau yang relatif jauh dari pusat Kerajaan Sriwijaya dan Banten yang relatif jauh dari pusat Kerajaan Sunda-Galuh. Kehadiran sejumlah bangsa Eropa pada abad-16 berangsur-angsur mengurangi kuasa dan pengaruh Arab di Nusantara, namun kuasa atau pengaruh Arab belum pernah betul-betul lenyap di Nusantara. Intinya, Nusantara – dengan segala pesonanya – telah menjadi panggung pertarungan berbagai pengaruh asing sejak menjelang tarikh Masehi. Kini, pada abad-21 imperialisme Arab berangsur-angsur seakan bangkit kembali melalui berbagai ormas (berkedok) agama, atau berkedok “Kebangkitan Islam Abad-15 Hijriyyah”. Dengan dukungan dana berlimpah sebagai hasil dari sumber alam minyak di Arabia, mereka relatif mudah menebar pengaruh ke negeri ini. Sekian tahun terakhir ini mereka banyak hadir semisal di kawasan wisata Puncak, sekitar 90 km ke arah selatan Jakarta. Muncullah berbagai bisnis jasa dengan memakai huruf Arab di sepanjang jalur tersebut, bahkan saya dapat info bahwa bisnis jasa semisal toko buku, photo copy, travel yang memakai huruf Arab juga merangkap jasa kawin kontrak – tentunya antara lelaki Arab dengan perempuan pribumi. Anehnya – atau konyolnya – warga setempat senang menerima mereka, mereka merasa beruntung mendapat jodoh atau menantu lelaki Arab, padahal tidak diimbangi dengan kesediaan orang Arab berjodoh atau bermenantu lelaki pribumi. Inilah akibat dari pemahaman agama Islam yang “Arab minded”, artinya menjadikan Arab sebagai ukuran beragama Islam. Apa-apa yang berasal dari Arab dianggap agama Islam, semisal janggut dan gamis. Padahal bukan cuma Nabi Muhammad yang bergamis dan berjanggut, namun musuhnya semisal Abu Lahab dan Abu Jahal juga demikian, karena mereka sama-sama orang Arab. Nabi diutus ke Arabia karena mereka paling butuh, mereka bangsa yang (sangat) barbar. Jika bangsa sebarbar Arab dapat dibina, maka bangsa lain – yang nota bene kurang sebarbar Arab – akan lebih mudah dibina.

    Jelas, nabi diutus untuk mengislamkan orang, bukan mengarabkan orang. Orang diislamkan sambil dibiarkan lestari identitas suku dan bangsanya. Tidak perlu kearab-araban untuk menjadi Muslim yang baik. Ambil Islamnya, buang Arabnya.

    Hapuskanlah segala fatwa yang mengharamkan memperdebatkan kebenaran yang diseru-serukan oleh sejumlah tokoh agama yang “Arab minded” supaya anda benar-benar mendapatkan kebenaran yang sesungguhnya. Seharusnya semakin manusia mengenal Tuhan (lewat agama yang dianutnya) maka sifat-sifat Tuhanpun akan menjadi denyut hidupnya.

    Menyeru-nyeru kebesaran Tuhan dengan pedang terhunus dan amarah yang membara di dada adalah penghinaan kepada Tuhan itu sendiri.

    Terpulang pada anda, apakah anda merasa dijajah kaum Arab atau tidak. Perlu difikirkan, kenapa membiarkan habib-habib memimpin anda, padahal kita punya semisal Pak Nasution, Siregar, Teungku, Bagindo Rajo, Tuanku, Mas Suparno atau Kang Jali, dan lain-lain. Bangunlah agama Islam yang berkepribadian Indonesia – anti kekerasan, anti keras kepala, anti benar sendiri, anti brutalisme, anti gamis – karena kita punya budaya sendiri, budaya Indonesia. Jangan cuma mengenang orang-orang yang melawan imperialisme Barat dan Jepang. Jangan cuma menganggap pahlawan atau pejuang, orang-orang yang melawan imperialisme Barat dan Jepang. Tetapi kenanglah, hargailah, jadikanlah pahlawan untuk para penentang imperialisme Arab.

    Kepada aparat, jangan ragu-ragu mengamankan para gerombolan
    bolot itu, demi kedamaian di bumi Indonesia tercinta. Mereka telah menjadi
    momok yang menakutkan dan telah mencoreng wajah bangsa ini dalam pandangan dunia internasional.

    Salam “MERDEKA” dari anggota keluarga Pejuang 1945!

  15. Indra Ganie - Bintaro Jaya, tangerang Selatan, Banten

    MENGAPA KEBUDAYAAN JAWA MENGALAMI KEMUNDURAN YANG SIGNIFIKAN?

    Mengenang 70 tahun (1945-2-15) Proklamasi 1945, pernyataan kehendak bangsa Indonesia untuk menentukan nasib sendiri, antara lain membentuk negara untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan : berdaulat dibidang politik, berdikari dibidang ekonomi dan berkepribadian dibidang budaya. NEGARA YANG TURUT DIPERJUANGKAN OLEH SEJUMLAH ANGGOTA KELUARGA PENULIS. Negara yang masih menjadi wilayah pertarungan sejumlah pengaruh asing, terutama IMPERIALISME ARAB – yang telah berlangsung sejak abad-7.

    Pengantar

    Manusia Jawa adalah mayoritas di Indonesia. Nasib bangsa Indonesia sangat tergantung kepada kemampuan penalaran, skill, dan manajemen – tegasnya kualitas manusia Jawa. Sayang sekali sampai dengan saat ini, MJ mengalami krisis kebudayaan; hal ini disebabkan kebudayaan Jawa dibiarkan merana, tidak terawat, dan tidak dikembangkan oleh fihak-fihak yang berkompeten (TERUTAMA OLEH POLITISI). Bahkan KJ terkesan dibiarkan mati merana digerilya oleh kebudayaan asing (terutama dari ASIA BARAT – atau lebih dikenal dengan istilah “TIMUR TENGAH” / ARAB). Intelektual nasional Mochtar Lubis dalam bukunya: “Manusia Indonesia : Suatu Pertanggungjawaban”, juga mengkritisi watak-watak buruk manusia Jawa – dan manusia Indonesia umumnya – semisal munafik, feodal, malas, tidak suka bertanggung jawab, suka gengsi dan prestise, dan tidak suka bisnis (lebih aman jadi pegawai negeri).

    Kemunduran kebudayaan Jawa antara lain tidak lepas dari dosa rezim Orde Baru. Strategi regim Soeharto untuk melepaskan diri dari tuannya (USA dan kawan-kawan sesama imperialis Barat) dan tekanan kaum reformis melalui politisasi agama Islam menjadikan Indonesia mengarah ke ideologi Timur Tengah (imperialis Arab). Indonesia saat ini adalah kembali menjadi ajang pertempuran antara: Barat lawan Asia Barat / Timur Tengah, antara kaum sekuler dan kaum Islam, antara modernitas dan kekolotan (memahami) agama.

    Boleh diibaratkan bahwa manusia Jawa terus menerus – dan bangsa Indonesia umumnya – mengalami penjajahan yang lama oleh:

    1. Imperialisme Arab – DENGAN KEDOK AGAMA – sejak abad-7 hingga kini. Persaingan dengan imperialisme Barat sejak abad-16 hanya mengurangi – bukan menghapus – pengaruh imperialisme Arab. Dengan topeng ormas agama dan topeng “Kebangkitan Islam Abad-15 Hijriyyah” mereka bangkit dengan percaya diri.
    2. Imperialisme Barat (Portugis, Spanyol, Inggris dan Belanda) sejak abad-16. Dimulai dari saat Portugis menyerbu Malaka tahun 1511 hingga tahun 1962, saat Belanda harus melepas Pulau Papua.
    3. Bangsa Jepang sejak 8 Maret 1942 hingga 17 Agustus 1945.

    Kezhaliman terhadap anak bangsa – terutama manusia Jawa – dilanjutkan oleh rezim Soeharto / ORBA selama hampir 32 tahun (Londo Ireng), dengan berbagai praktek pelanggaran hak azazi manusia dan korupsi, kolusi serta nepotisme. Juga berbagai perusahaan multi nasional selama ORBA dan masih berlanjut hingga kini.

    Sekarang dan dimasa dekat, bila tidak “eling lan waspodo”, diramalkan bahwa Indonesia akan menjadi negara boneka imperialis Arab (melalui kendaraan utama politisasi agama). Kisah imperialisme Arab abad-7 sepertinya terulang kembali tanpa terasa oleh mayoritas anak bangsa.

    Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah terpaan berbagai krisis yang tak pernah selesai dialami oleh bangsa Indonesia. Politisasi uang dan agama mengakibatkan percepatan krisis kebudayaan Jawa, seperti analisa dibawah ini.

    Gerilya Kebudayaan

    Negara-negara TIMTENG / ARAB harus berjuang sekuat tenaga dengan cara apapun untuk mendapat devisa selain dari kekayaan minyak (petro dollar), hal ini mengingat tambang minyak di Timur Tengah (Arab) adalah terbatas umurnya; diperkirakan oleh para ahli bahwa umur tambang minyak sekitar 15 tahun lagi, disamping itu penemuan energi alternatif akan dapat membuat minyak turun harganya. Begitu negara Timur Tengah mendapat angin dari regim Orde Baru, Indonesia lalu bagaikan diterpa badai gurun yang panas! Pemanfaatan agama (politisasi agama) oleh negara asing (negara-negara Arab) untuk mendominasi dan menipiskan kebudayaan setempat (Indonesia) mendapatkan angin bagus, ini berlangsung dengan begitu kuat dan begitu vulgarnya. Gerilya kebudayaan asing lewat politisasi agama begitu gencarnya, terutama lewat media televisi, majalah, buku dan radio. Gerilya kebudayaan melalui TV ini sungguh secara halus, begitu tersamar. Maka orang awam pasti sulit mencernanya!

    Dizaman dahulu, imperialisme Arab – antara lain dengan kedok agama dan memakai tangan pribumi (tidak terang-terangan) – telah menggusur MANUSIA MAJAPAHIT hingga terdesak ke Gunung Bromo – yang kini disebut masyarakat Tengger. Ada juga yang tersingkir ke Bali.
    Bagaimana dengan kini? Nah, silahkan simak berikut ini adalah gerilya kebudayaan yang sedang berlangsung:

    1. Dalam sinetron, hal-hal yang berbau mistik, dukun, santet dan yang jahat sering dikonotasikan dengan manusia yang mengenakan pakaian adat Jawa seperti surjan, batik, blangkon kebaya dan keris; kemudian hal-hal yang berkenaan dengan kebaikan dan kesucian dihubungkan dengan pakaian keagamaan dari Timur Tengah / Arab. Kebudayaan yang Jawa dikalahkan oleh yang dari Arabia.
    2. Artis-artis film dan sinetron digarap duluan mengingat mereka adalah banyak menjadi idola masyarakat muda (yang nalarnya kurang jalan). Para artis, yang blo’on politik ini, bagaikan dimasukan ke salon rias Timur Tengah / Arab, untuk kemudian ditampilkan di layar televisi, koran, dan majalah demi membentuk mind set (seting pikiran) yang berkiblat ke Arab.
    3. Bahasa Jawa beserta ungkapannya yang sangat luas, luhur, dalam, dan fleksibel juga digerilya. Dimulai dengan salam pertemuan yang memakai assalaam…dan wassalaam…. Padahal acaranya belum tentu khusus terkait dengan syi’ar atau da’wah Islam, yang memungkinkan umat lain turut hadir. Dulu kita bangga dengan ungkapan “tut wuri handayani”, “menang tanpo ngasorake”, “gotong royong”, dan sebagainya.; sekarang kita dibiasakan oleh para gerilyawan kebudayaan dengan istilah-istilah asing dari Arab, misalnya “amar makruh nahyi mungkar”, “saleh” dan “salehah”, dan seterusnya. Untuk memperkuat gerilya, dikonotasikan bahwa bahasa Arab itu membuat manusia dekat dengan surga! Sungguh cerdik, bahkan licik.
    4. Kebaya, teluk belanga dan surjan diganti dengan hijab, cadar, celana gombrong, dan janggut ala orang Arab. Nama-nama Jawa dengan Ki dan Nyi (semisal Ki Hajar …) mulai dihilangkan, nama ke Arab-araban dipopulerkan. Dalam wayang kulit, juga dilakukan gerilya kebudayaan: senjata pamungkas raja Pandawa yaitu Puntadewa menjadi disebut Kalimat Syahadat (jimat Kalimo Sodo), padahal wayang kulit berasal dari agama Hindu (banyak dewa-dewinya yang tidak Islami), jadi bukan Islam; bukankah ini sangat memalukan? Gending-gending Jawa yang indah sedikit demi sedikit digerilya dan digeser dengan musik qasidahan dari Arab. Dibeberapa tempat (Padang, Aceh, Jawa Barat) usaha menetapkan hukum yang disebut “syari’ah” terus digulirkan, dimulai dengan kewajiban berhijab! Kemudian, mereka lebih dalam lagi mulai mengusik ke bhinekaan Indonesia, dengan berbagai larangan dan usikan bangunan-bangunan ibadah dan sekolah non Islam.
    5. Gerilya lewat pendidikan juga gencar, perguruan berbasis Taman Siswa yang nasionalis, pluralis dan menjujung tinggi kebudayaan Jawa secara lambat namun pasti juga digerilya, mereka ini digeser oleh (istilah) “madrasah”, “tarbiyyah”, atau “ma’had” – sekaligus istilah tersebut menggusur istilah “pesantren”. Padahal Taman Siswa adalah asli produk perjuangan dan merupakan kebanggaan manusia Jawa. UU Sisdiknas juga merupakan gerilya yang luar biasa berhasilnya. Sekolah swasta berciri keagamaan non Islam dipaksa menyediakan guru beragama Islam, sehingga ciri mereka (terancam) lenyap.
    6. Demikian pula dengan perbankan, mereka ingin eksklusif dengan bank syariah, dengan menghindari kata bunga / rente; istilah ke Arab-araban pun diada-adakan, walau nampak kurang logis! Seperti USA memakai IMF, dan orang Yahudi menguasai finansial, maka manusia Arab ingin mendominasi Indonesia memakai strategi kontroversi halal-haramnya pinjaman, misalnya lewat istilah “bank syari’ah”.
    7. Keberhasilan perempuan dalam menduduki jabatan tinggi di pegawai negeri dikonotasikan / dipotretkan dengan penampilan berhijab dan naik mobil yang baik. Para pejabat tersebut lalu memberikan pengarahan untuk Arabisasi pakaian dinas di kantor masing-masing.
    8. Di hampir pelosok Pulau Jawa kita dapat menyaksikan bangunan-bangunan masjid yang megah, bukan dari dana swadaya masyarakat namun dari dana pembangunan dari Arab yang luar biasa besarnya.
    9. Fatwa MUI tahun 2005 tentang larangan-larangan yang tidak berdasar nalar dan tidak menjaga keharmonisan masyarakat sungguh menyakitkan manusia Jawa yang suka damai dan harmoni. Bila ulama hanya menjadi sekedar alat politik, maka panglima agama adalah ulama politikus yang mementingkan uang, kekuasaan dan jabatan saja; efek ketetapan tidak mereka hiraukan. Sejarah ORBA membuktikan bahwa MUI dan ICMI adalah alat regim ORBA yang sangat canggih. Saat ini, MUI boleh dikata telah menjadi alat negara asing (Arab) untuk menguasai.
    10. Buku-buku yang sulit diterima nalar, dan secara ngawur ditulis hanya untuk melawan dominasi ilmuwan Barat saat ini membanjiri pasaran di Indonesia. Rupanya ilmuwan Asia Barat / Arab ingin melawan ilmuwan Barat, semua teori Barat yang rasional-empiris dilawan dengan teori Asia Barat / Arab yang berbasis intuisi-agamis, misal teori kebutuhan Maslow yang sangat populer dilawankan teori kebutuhan spiritual imam ini imam itu, teori EQ ditandingi dengan ESQ, dan seterusnya. Masyarakat Indonesia harus selalu cermat dalam memilih buku yang ingin dibacanya.
    11. Dengan halus, licik tapi mengena, mass media, terutama TV dan radio, telah digunakan untuk membunuh karakter (character assasination) budaya Jawa sekaligus meninggikan karakter budaya Arab (lewat agama atau bertopeng agama)! Para gerilyawan juga menyelipkan filosofis yang sangat cerdik, yaitu: kebudayaan Arab itu bagian dari kebudayaan pribumi, kebudayaan Barat (dan Cina) itu kebudayaan asing; jadi harus ditentang karena tidak sesuai! Padahal kebudayaan Arab adalah juga asing!
    12. Gerilya yang cerdik dan rapi sekali adalah melalui peraturan negara seperti undang-undang, misalnya hukum syariah yang mulai diterapkan di sementara daerah, U.U. SISDIKNAS, dan rencana UU Anti Pornografi dan Pornoaksi (yang sangat bertentangan dengan Bhineka Tunggal Ika dan sangat menjahati / menzalimi kaum perempuan dan pekerja seni). Menurut Gus Dur, RUU APP telah melanggar Undang-Undang Dasar 1945 karena tidak memberikan tempat terhadap perbedaan. Padahal, UUD 1945 telah memberi ruang seluas-luasnya bagi keragaman di Indonesia. RUU APP juga mengancam demokrasi bangsa yang mensyaratkan kedaulatan hukum dan perlakuan sama terhadap setiap warga negara di depan hukum. Gus Dur menolak RUU APP dan meminta pemerintah cukup mengoptimalkan penegakan undang-undang lain yang telah mengakomodir pornografi dan pornoaksi. “Telah terjadi formalisasi dan Arabisasi saat ini. Kalau sikap Nahdhatul Ulama sangat jelas bahwa untuk menjalankan syariat Islam tidak perlu negara Islam,” ungkapnya. (Kompas, 3 Maret 2006).
    13. Puncak gerilya kebudayaan adalah tidak diberikannya tempat untuk kepercayaan asli, misalnya Kejawen, dalam Kartu Tanda Penduduk (KTP), dan urusan pernikahan / perceraian bagi kaum kepercayaan asli ditiadakan. Kejawen, harta warisan nenek moyang, yang kaya akan nilai: pluralisme, humanisme, harmoni, religius, anti kekerasan dan nasionalisme, ternyata tidak hanya digerilya, melainkan akan dibunuh dan dimatikan secara perlahan! Sungguh sangat disayangkan! Urusan perkawinan dan kematian untuk MJ penganut Kejawen dipersulit sedemikian rupa, urusan ini harus dikembalikan ke agama masing-masing!
    14. Gerilya kebudayaan juga telah mempengaruhi perilaku manusia Jawa, orang Jawa yang dahulu dikenal lemah-lembut, andap asor, cerdas, dan harmoni; namun sekarang sudah terbalik: suka kerusuhan dan kekerasan, suka menentang harmoni. Bayangkan saja, kota Solo yang dulu terkenal putri nya yang lemah lembut (putri Solo) digerilya menjadi kota yang suka kekerasan, ulama Arab (Ba’asyir) mendirikan lembaga pendidikan Ngruki untuk mencuci otak anak-anak muda. Akhir-akhir ini kota Solo kesulitan mendatangkan turis manca negara, karena kota Solo sudah diidentikan dengan kekerasan sektarian. Untuk diketahui, di Pakistan, banyak madrasah disinyalir dijadikan tempat brain washing dan bai’at. Banyak intelektual muda kita di universitas-universitas yang kena baiat (sumpah secara agama Islam, setelah di brain wahing) untuk mendirikan NII (negara Islam Indonesia) dengan cara menghalalkan segala cara. Berapa banyak madrasah di Indonesia yang dijadikan tempat cuci otak anti pluralisme dan anti harmoni? Banyak! Berapa jam pelajaran dihabiskan untuk belajar agama (ngaji) dan bahasa Arab? Banyak, diperkirakan sampai hampir 50% nya! Tentu saja ini akan sangat mempengaruhi turunnya perilaku dan turunnya kualitas sumber daya manusia bangsa Indonesia secara keseluruhan! Maraknya kerusuhan dan kekerasan di Indonesia bagaikan berbanding langsung dengan maraknya pembangunan berbagai madrasah. Berbagai fatwa MUI yang menjungkirbalikan harmoni dan gotong royong manusia Jawa gencar dilancarkan!

    Penulis ulangi, sejarah membuktikan bagaimana Kerajaan Majapahit, yang luar biasa jaya, juga terdesak melalui gerilya kebudayaan Arab sehingga manusianya terpojok ke Gunung Bromo (suku Tengger) dan Pulau Bali (suku Bali). Dan perlu diselidiki, apakah peranan Wali Songo saat itu sebagai alat politis (mirip MUI dan ICMI saat ini) adalah besar? Intinya, semenjak saat itu kemunduran kebudayaan Jawa sungguh luar biasa!

    Tanda-tanda Kemunduran Budaya Jawa.

    Kemunduran kebudayaan manusia Jawa sangat terasa sekali, karena suku Jawa adalah mayoritas di Indonesia, maka kemundurannya mengakibatkan kemunduran negara Indonesia, sebagai contoh kemunduran adalah:

    1. Orang-orang hitam dari Afrika (yang budayanya dianggap lebih primitif) ternyata dengan mudah mempedayakan masyarakat kita dengan manipulasi penggandaan uang dan jual-beli narkoba.
    2. Orang Barat memperdayakan kita dengan kurs nilai mata uang. Dengan $ 1 = kira-kira Rp. 10.000, ini sama saja penjajahan baru. Mereka dapat bahan mentah hasil alam dari Indonesia murah sekali, setelah diproses di Luar Negeri menjadi barang hitech, maka harganya jadi selangit. Nilai tambah pemrosesan / produksi barang mentah menjadi barang jadi diambil mereka (disamping membuka lapangan kerja). Indonesia terus dengan mudah dibohongi dan dimanjakan untuk menjadi negara pengexport bahan mentah dan sekaligus pengimport bahan jadi terbesar didunia, sungguh suatu kebodohan yang luar biasa.
    3. Orang Jepang terus membuat kita tidak pernah bisa bikin mobil sendiri, walau industri Jepang sudah lebih 30 tahun ada di Indonesia. Semestinya bangsa ini mampu mendikte Jepang dan negara lain untuk mendirikan pabrik di Indonesia, misalnya pabrik: Honda di Sumatra, Suzuki di Jawa, Yamaha di Sulawesi, dan seterusnya. Ternyata kita sekedar menjadi bangsa konsumen dan perakit.
    4. Orang Arab dengan mudah menggerilya kebudayaan kita seperti cerita diatas; disamping itu, Indonesia adalah termasuk pemasok devisa haji terbesar! Kemudian, dengan hanya Azahari, Abu Bakar Ba’asyir dan Habib Riziq S (FPI), cukup beberapa gelintir manusia saja, Indonesia sudah dapat dibuat kalang kabut oleh negara asing! Sungguh keterlaluan dan memalukan!
    5. Kalau dulu banyak mahasiswa Malaysia studi ke Indonesia, sekarang posisinya terbalik: banyak mahasiswa Indonesia belajar ke Malaysia (bahkan ke Singapura, Thailand, Filipina, dan seterusnya). Konyol bukan?
    6. Banyak manusia Jawa yang ingin kaya secara instant, misalnya mengikuti berbagai arisan /multi level .
    7. Dalam beragamapun terkesan jauh dari nalar, bijak dan jauh dari cerdas, terkesan hanya ikut-ikutan. Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama, dan tidak perlu mengorbankan budaya lokal.
    8.
    Sampai dengan saat ini, Indonesia belum dapat melepaskan diri dari berbagai krisis (krisis multi dimension), kemiskinan dan pengangguran justru semakin meningkat, padahal negara tetangga yang sama-sama mengalami krisis sudah kembali relative sehat walafiat! Peran manusia Jawa berserta kebudayaannya, sebagai mayoritas, sangat dominan dalam berbagai krisis yang dialami bangsa ini.

    Penutup

    Beragama tidak harus menjiplak kebudayaan asal agama. Gus Dur mensinyalir telah terjadi arabisasi kebudayaan. Kepentingan negara asing untuk menguasai bumi dan alam Indonesia yang kaya raya dan indah sekali sungguh riil dan kuat sekali, kalau negara modern memakai teknologi tinggi dan jasa keuangan, sedangkan negara lain memakai politisasi agama beserta kebudayaannya. Indonesia saat ini adalah sedang menjadi ajang pertempuran antara dua ideologi besar dunia: Barat lawan Asia Barat (Arab), antara modernitas dan kekolotan (memahami) agama. CLASH OF CIVILIZATION antar dua ideologi besar di dunia ini, yang sudah diramalkan oleh sejarahwan kelas dunia – Samuel Hutington.

    Tanpa harus meniru / menjiplak kebudayaan Arab, Indonesia diperkirakan dapat menjadi pusat Islam (center of excellence) yang modern bagi dunia. Seperti pusat agama Kristiani modern, yang tidak lagi di Israel, melainkan di Italia dan Amerika. Beragama tanpa nalar disertai menjiplak budaya asal agama tersebut secara membabi buta hanya akan mengakibatkan kemunduran budaya lokal sendiri! Maka bijaksana, kritis, dan cerdik sangat diperlukan dalam beragama.

    Salam “MERDEKA” dari anggota keluarga Pejuang 1945!

  16. Indra Ganie - Bintaro Jaya, Tangerang Selatan, Banten.

    Menggagas Gerakan Pencerahan
    &
    Pembebasan Nasional Indonesia

    Mengenang 70 tahun (1945-2015) Proklamasi 1945 yang merupakan pernyataan kehendak bangsa Indonesia menentukan nasib sendiri, antara lain membentuk negara untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan: berdaulat dibidang politik, berdikari dibidang ekonomi dan berkepribadian dibidang budaya.

    Tulisan ini saya persembahkan sebagai bakti saya pada para pahlawan – KHUSUSNYA DARI ANGGOTA KELUARGA SAYA.

    Sebagaimana yang pernah penulis sampaikan pada sejumlah kesempatan bahwa, sejak sekitar awal tarikh Masehi, wilayah yang kini disebut “Negara Kesatuan Republik Indonesia” telah terdapat sejumlah bangsa asing. Wilayah luas, alam kaya, letak strategis dan pribumi yang masih bersahaja telah mengundang sejumlah bangsa asing untuk singgah – bahkan menetap – di wilayah tersebut, semisal Tionghoa, India, Arabia, Persia dan Eropa.

    Diawali dengan kehadiran bangsa leluhur penulis yaitu India / Hindustan, bangsa pribumi Nusantara berangsur-angsur mengenal peradaban – yang biasanya diawali dengan pembentukan negara / pemerintah / kerajaan. Dengan tata tertib yang diberlakukan oleh kerajaan, berangsur-angsur berbagai macam peradaban tersebar ke seantero negeri. Maka hubungan antara India dengan Indonesia boleh dibilang hubungan antara guru (India) dengan murid (Indonesia). leluhur bangsa pribumi relatif menerima pengaruh India dengan senang hati. kelak hubungan yang punya rentang waktu lama mewariskan pengaruh, antara lain penamaan bangsa (Sumpah Pemuda 1928) dan negara (Proklamasi 1945) dengan istilah “Indonesia”. istilah ini berasal dari kata “Indus” (India) dan “Nesos” (Kepulauan). Istilah ini dapat bermakna bahwa Indonesia pernah menjadi bagian dari India.
    Hubungan yang lama dan relatif nyaman ini terusik oleh kehadiran sejumlah bangsa lain dengan motif bukan sekadar berdagang, namun ujung-ujungnya ingin berkuasa. Perioda ini umumnya dianggap berawal dari abad-16, yaitu dengan kehadiran bangsa Portugis dari Eropa. Umumnya perioda ini dianggap sebagai awal penjajahan, imperialisme, kolonialisme – atau hal semacam itu di negeri ini, yang kelak berakhir secara fisik pada tahun 1962 / 3, ketika bangsa Eropa lain yaitu Belanda harus melepas Pulau Papua untuk diserahkan kepada Republik Indonesia, yaitu negara bentukan pribumi negeri ini dengan pernyataan yang disebut dengan “Proklamasi 1945”.

    Namun beberapa waktu terakhir ini, penetapan perioda awal penjajahan tersebut di atas pelan-pelan dipertanyakan oleh sejumlah anak bangsa. Mereka menganggap bahwa perioda awal penjajahan di negeri ini bukanlah abad-16 oleh bangsa Eropa, namun berawal dari abad-7 oleh imperialisme / kolonialisme Arab.

    Pada abad-7 imperialisme Arab bergerak ke berbagai penjuru dengan pesat. Dalam waktu sekitar 100 tahun terwujudlah imperium Arab yang luas dan tahan lama – dengan relatif sedikit perubahan. Imperium tersebut pada abad-8 membentang dari Iberia di sisi barat hingga Turkistan / perbatasan Tiongkok di sisi timur. Dari Pegunungan Kaukasus di sisi utara hingga pesisir Afrika Timur jauh di selatan. Di luar wilayah itu, mereka menguasai perairan Laut Tengah, Laut Merah, teluk Persia, Samudera Hindia, Selat Malaka hingga Laut Cina Selatan. Mereka membentuk sejumlah koloni di sepanjang jalur tersebut.

    Seiring berjalan waktu, imperium tersebut sempat mengalami masa surut, antara lain dengan kehadiran sejumlah bangsa Eropa. Namun perngaruh mereka tidak pernah sungguh hilang – termasuk di negeri ini.

    Kelak imperialisme Arab berangsur-angsur bangkit – sebagaimana pada masa lalu – menggunakan kedok agama. Walaupun kini dunia Arab terbagi-bagi menjadi sejumlah negara – bahkan ada yang saling bermusuhan, mimpi mereka relatif sama: membangkitkan kembali imperialisme Arab dengan (masih) menggunakan jargon agama “Kebangkitan Islam Abad-15 Hijriyyah” sejak awal 1980-an. Masuk abad-21, pengaruh mereka makin terasa -secara langsung / terang-terangan maupun secara tidak langsung / dibalik panggung. Cara demikian pernah dilaksanakan pada kebangkitan pertama imperialisme Arab. Pada awalnya Arab berkuasa langsung sekian lama di suatu negeri, kemudian berangsur-angsur tanpa terasa ditampilkan bangsa lain semisal Turki, Mongol – serta Melayu di Asia Tenggara.

    Pada abad ini, oleh sejumlah anak bangsa makin terasa bahwa Indonesia kembali atau masih menjadi lahan pertarungan berbagai pengaruh asing – dalam berbagai bidang. Dan umumnya masih dilakukan oleh pemain lama : Barat dan Arab. Oh ya, perlu disebut juga imperilaisme Jepang yang mulai muncul pada abad-19. Walaupun kebangkitan dan perluasan imperialisme Jepang sempat terhenti oleh kekalahannya pada Perang Dunia-2 (1939-45), secara berangsur Jepang bangkit kembali – berawal dari bidang ekonomi – yang kemudian dibidang militer, yang justru mendapat restu diam-diam dari Amerika Serikat – mantan musuhnya pada Perang Dunia-2.

    Terkait dengan Indonesia, Jepang sekian lama menjadi negara donor dan investor terbesar. Jepang butuh rekan / kawan sebanyak mungkin karena terlibat sengketa perbatasan dengan RRT, Uni Soviet (kini Rusia) sekaligus tegang dengan Korea Utara. Strategi Jepang yang sedapat mungkin bermurah hati dengan sejumlah negara Asia-Pasifik – termasuk Indonesia – sekaligus ingin menebus kesalahan masa lalunya pada Perang Dunia-2. Sejumlah negara Asia-Pasifik pernah mengalami derita luar biasa pada perioda penjajahan Jepang.

    Masuk abad-21, RRT tampil menjadi raksasa ekonomi yang menggeser Jepang. Pertumbuhan ekonomi ujung-ujungnya mengarah pada pertumbuhan militer. Anggaran militer RRT menunjukkan peningkatan. hal tersebut membuat cemas AS, Jepang, Taiwan dan sejumlah negara ASEAN. Terlebih lagi sejumlah negara ASEAN terlibat sengketa wilayah dengan RRT di Laut Cina Selatan. Di perairan tersebut terdapat gugusan kepulauan yang (konon) kaya migas, yaitu Kepulauan Spratley. Dan diam-diam RRT menganggap Kepulauan Natuna – juga kaya denga migas – yang nota bene wilayah NKRI, sebagai wilayahnya.

    Dari uraian singkat di atas, dapatlah difahami bahwa wilayah Asia Tenggara – khususnya Indonesia – tetap atau masih dianggap strategis bagi fihak luar kawasan. Maka mungkin muncul pertanyaan: apakah bangsa Indonesia – tanpa kecuali – menyadari bahwa negaranya bernilai strategis & menjadi lahan perebutan pengaruh asing?

    Setelah sekian lama mencermati bangsa ini, penulis menilai bahwa hampir semua anak bangsa tidak menyadari. Mereka menjalani hidupnya sehari-hari sebagaimana biasanya: bersekolah, bekerja, belanja, bercinta, seakan-akan tidak terjadi apa-apa. Tanpa disadari bangsa ini kembali terperangkap oleh “penjajahan gaya baru” (neo imperialism / colonialism), padahal Pahlawan Proklamator Bung Karno telah mengingatkan hal tersebut pada tahun 1960-an.

    Masuk abad-21, Indonesia beberapa kali dikejutkan oleh sejumlah peristiwa teror yang dilakukan oleh sejumlah anak bangsa. Motif mereka relatif sama: melawan hegemoni Barat, perlawanan yang mereka anggap “perang suci”, perang sabil” atau “perang jihad”. Artinya, mereka menganut faham atau ideologi dari luar – tepatnya dunia Arab. Bahkan disinyalir mereka dapat dana dari sana. penulis melihat, inilah bagian dari kebangkitan imperialisme Arab jilid-2.

    Tanpa terasa oleh hampir semua anak bangsa, imperialisme Arab – dengan frontal maupun gerilya – berusaha memasukkan pengaruh ke Indonesia semisal ekstrimisme, fanatisme, radikalisme, anarkisme, vandalisme dan terorisme. Hingga kini ormas berfaham demikian semisal “Front Pembela Islam” tidak kunjung dapat dibekukan – apalagi dibubarkan. Kenapa pemerintah seakan tak kuasa bertindak tegas terhadap ormas yang meresahkan tersebut? Siapa penyandang dananya? Siapa sosok kuatnya?

    Menghadapi berbagai fihak asing yang menjadikan Indonesia sebagai lahan pengaruhnya – jika perlu bertarung dengan fihak asing lainnya maupun lokal, tak ada pilihan selain melaksanakan apa yang disebut “Gerakan Pencerahan & Pembebasan Nasional Indonesia”. Gerakan tersebut berangkat dari pencerahan yang mengarah pada penyadaran bahwa Indonesia terlalu berharga untuk dipengaruhi -apalagi dikuasai – dalam bentuk apapun oleh fihak asing. Indonesia adalah untuk orang Indonesia! Jika seluruh anak bangsa mendapat pencerahan, maka langkah berikutnya adlah pembebasan. Pembebasan apa? Pembebasan dari segala usaha fihak asing mencengkeramkan atau menancapkan pengaruhnya di Indonesia!

    Langkah-langkah pencerahan tersebut antara lain:

    1. Penyadaran bahwa apa yang disebut dengan “Indonesia” adalah hasil usaha / perjuangan / pengorbanan / penderitaan bersama, tanpa memandang latar belakang suku, ras, agama dan golongan.
    2. Penyadaran bahwa apa yang disebut dengan “Indonesia” bukan ada dari hasil sulap atau sekejap, tetapi merupakan hasil dari proses yang panjang dan kejam. Indonesia berawal dari mimpi besar sekaligus kerja besar: mempersatukan dari perpecahan sekaligus membebaskan dari penjajahan. Inilah yang mungkin pantas disebut “mission impossible”.
    3. Menyepakati bahwa syarat menjadi orang Indonesia adalah bermental Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika. Nilai-nilai tersebut telah ada sebelum hadir pengaruh asing, kemudian dirumuskan untuk menjadi filsafat bangsa oleh para aktivis kemerdekaan dengan susah payah, ditengah-tengah kesibukan mewujudkan apa yang disebut dengan “Indonesia”.
    4. Hidupkan kembali pelajaran Pancasila dan sejarah – terutama sejarah nasional – dengan format atau metoda pembelajaran yang dapat menjawab zaman, memperkuat rasa identitas bangsa. Dimulai dari SD hingga SMA.
    5. Penyadaran bahwa keragaman dapat menjadi kekayaan bangsa sekaligus bukan kerawanan bangsa. Berbeda bukan alasan saling membenci, memusuhi, meniadakan satu sama lain.
    6. Segala dinamika atau gejolak dalam masyarakat harus segera dicari solusinya. Buktikan bahwa bangsa ini sanggup menyelesaikan masalahnya sendirian, tanpa perlu bantuan asing.
    7. Perlu penyadaran bahwa bantuan asing adalah pilihan terakhir, untuk mencegah peluang masuk pengaruh asing, yang belum tentu bermanfaat bagi Indonesia. Jelas, perlu hindari saling tuduh, tuding antar anak bangsa, yang rawan intervensi fihak asing.
    8. Berikan dukungan – terutama oleh para elit politik dan ekonomi – berbagai usaha menciptakan / menghasilkan sendiri barang kebutuhan. jadikanlah impor sebagai pilihan terakhir.

    Adapun sejumlah langkah pembebasan dapat dilakukan antara lain:

    1. Untuk barang yang tidak / belum dihasilkan sendiri, ajak fihak asing membangun pabrik di negeri ini. Buat perjanjian alih teknologi.
    2. Runding ulang berbagai perjanjian / kontrak terkait penguasaan dan pengelolaan sumber daya alam di negeri ini. Dasarnya adalah kepentingan nasional harus diutamakan terlebih dahulu.
    3. Dukung setiap anak bangsa yang punya skill untuk berkarya di negeri ini. Jangan sampai mereka bekerja di luar negeri karena merasa lebih dihargai bangsa asing dibanding bangsa sendiri.
    4. Mengirim sebanyak-banyak mungkin anak bangsa belajar di luar negeri untuk kelak berguna di dalam negeri.
    5. Utamakan tenaga pengajar lokal, kurangi tenaga pengajar asing di berbagai lembaga pendidikan di negeri ini.
    6. Anggaran militer perlu ditambah sesuai kebutuhan karakteristik wilayah Indonesia, antara lain mencakup penambahan gaji, personil dan alutsista. Juga perlu warga negara dilatih kemiliteran dasar untuk bela negara.

    Point-point tersebut di atas bukanlah kebenaran mutlak, masih terbuka untuk perbaikan menuju penyempurnaan.

    Salam “MERDEKA” dari anggota keluarga Pejuang 1945!
    Jakarta, Januari 2015

  17. Ekonomi jika sdh dikuasai seklompok tertentu dalam suatu Negra sangat membahayakan seperti sekarang ini di Indonesia (90% ekonomi Indonesia dikuasai etnis tertentu/cina),ini semua terjadi bukan kebetulan tetapi memang sdh lama mereka rencanakan ,isu Sara di ciptakan sebenarnya lebih banyak tujuannya untuk melindungi mereka ,keuletan juga opini yg terus dibangun seolah olah mereka memang betul2 mampu ,padahal di balik itu semua kesempatan berusaha dan modal usaha (BANK) banyak memberikan kesempatan kepada klompok mereka ,sedangkan kaum pribumi semakin sulit diberikan akses madal dan kesempatan untuk berusaha ,sekarang mereka dan klompoknya sdh meng amandemen UUD 45 sampai 4 kali tujuannya ,agar mereka lebih mudah lagi menguasai Politik dan ekonomi ,terbukti sekarang DKI satu dan RI 1 orang mereka ,semua itu atas usaha dan dukungan mereka , dan ini dilakukan dgn politik uang karena mereka sdh menguasai kapital yg cukup besar ,bukan tdk mungkin Jakarta sebagai Ibukota akan mereka jadikan seperti singapura ,yg mana nantinya klompok2 mereka saja yg menguasai Ibukota (90% perputaran uang di ibukota) sedangkan Pribumi terus semakin tersingkir dan Terpuruk ….solusinya sebaiknya Pribumi wajib bersatu untuk memilih Gubernur DKI nanti seorang Muslim yg pro Rakyat Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s