Periodisasi dalam Karya Iwan Fals (Bagian 2)

(Tulisan sebelumnya)

Untaian kalimat semacam “lagu roda dua seperti malas tak beringas”,  “setangkai kembang pete, tanda cinta abadi namun kere”, serta “kalau hanya senyum…Westerling pun tersenyum”,  adalah ungkapan khas yang hanya bisa dicapai oleh Iwan Fals. Ini menandakan bahwa syair citanya tak kalah dengan lagunya yang semacam pada era sebelumnya.

Dengan kritisisme yang telah menjadi watak syairnya, ditambah kualitas syair yang begitu berkelas, apalagi menghitung jumlah penggemarnya yang bejibun, tak akan ada yang menggugat ketika ia dinobatkan sebagai salah satu pahlawan Asia oleh majalah Time.

Periode ini berakhir ketika mendadak Iwan Fals menarik diri dari hingar-bingar dunia musik Nusantara pada awal dekade 90-an. Memang ketika itu ia masih mengeluarkan beberapa album repackage namun tidak banyak menghasilkan karya baru. Selain itu ia juga terlibat dalam proyek-proyek Kantata Taqwa, namun intensitasnya tak bisa dibandingkan dengan era sebelumnya.

Periode Iwan Fals tua

Era ini dimulai ketika ia mengeluarkan album Suara Hati pada tahun 2001. Di album ini ia masih mengusung beragam tema, mulai dari cinta, kritik, refleksi sampai potret realitas tertentu. Namun di sini sudah terlihat jelas perbedaan Iwan Fals dalam hal pandangan dunia sang aku lirik, serta kualitas syair-syair yang ditulisnya.

Dalam hal pandangan dunia, sang aku lirik dalam lagu Iwan Fals di era ini terdengar lebih moralis. Ia jadi banyak menasihati dan menegaskan posisi dengan sangat verbal dalam sebuah permasalahan. Ini mungkin wajar jika melihat usia Iwan yang telah menua, tapi tentu tidak dalam hal karya!

Teman saya Asep Sopyan yang beberapa waktu mengikuti sebuah diskusi di rumah Iwan Fals menceritakan bahwa Iwan sempat menyanyikan beberapa lagu yang belum ia dengar. Dan salah satu lagu yang diingatnya banyak memakai kata “harus” yang menandakan bahwa Iwan sudah betul-betul menegaskan posisi yang verbal ketika membahas sebuah soal.

Perubahan ini menurut saya memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap menurunnya kualitas kemampuan penyanyi yang tinggal di Leuwinanggung ini dalam menulis karya. Ia nampaknya telah kesulitan untuk menemukan ungkapan-ungkapan yang menjadi ciri khas pada era-era sebelumnya.

Lagu-lagu semacam Hadapi Saja, Belalang Tua, Seperti Matahari, Kupu-kupu Hitam Putih dan lainnya memang kualitas syairnya masih di atas kebanyakan musikus lain di era ini, namun jauh di bawah level dua periode Iwan Fals Sebelumnya. Jujur saja, ini merupakan album Iwan Fals terakhir yang saya koleksi, karenanya saya tak bisa melacak dengan baik lagu-lagu selepas album tersebut.

Pasca Suara Hati Iwan bahkan mendominasi penampilannya di ruang publik dengan lagu-lagu bertema cinta, baik karyanya sendiri maupun karya orang lain. Kualitas syair-syairnya pun tak lagi mumpuni seperti dulu. Jika mau menimbang selera pasar kita memang bisa memahami pergeseran ini, namun seorang legenda sebesar dirinya, ditambah dengan komunitas penggemar semasif OI, pastilah punya previlege tertentu di pasar industri musik.

Pergeseran posisi dan degradasi kualitas syair Iwan ini patut disayangkan. Bagaimanapun reputasinya dibangun dengan bermacam kualitas yang ditunjukkan pada era sebelumnya. Sebagian besar anggota OI memang tak akan meninggalkannya hanya gara-gara hal ini, namun pertaruhan eksistensi Iwan Fals, yang menurut saya lebih sebagai seorang musikus ketimbang selebritas, jadi patut dipertanyakan.

Penutup

Banyak yang berspekulasi bahwa perubahan Iwan pada awalnya dipicu oleh wafatnya Galang Rambu Anarki, anaknya. Apalagi di album Suara Hati yang mengakhir periode vakumnya ia menulis sebuah lagu berjudul Hadapi Saja yang menjadi sinyalemen hal tersebut. Tentunya saya tidak tahu kebenaran spekulasi tersebut.

Memang dengan atau tanpa perubahan yang saya sebut sebagai “periode Iwan Fals tua” pun ia tetaplah seorang legenda besar pilih tanding di belantara musik Indonesia. Setiap konsernya dimana pun tetaplah sebuah pertunjukkan yang dipadati banyak penggemar dan “membuat khawatir” pihak keamanan. Namun kita tentu tak mau kehilangan seorang inspirasi yang telah memberi tahu kepada kita banyak “kebenaran-kebenaran yang tercecer” melalui perspektif potretnya yang unik.

Kita juga tak mungkin berharap ia mampu terus-menerus memertahankan kualitas syairnya. Bukankah hal wajar jika seorang yang menghasilkan karya-karya besar pada suatu saat kehilangan momentum untuk menghasilkan karya yang setara dengan sebelumnya. Namun paling tidak kita bisa berharap bahwa Iwan tahu bahwa kita tak sedang melihatnya di puncak prestasinya, agar ia termotivasi untuk berbuat lebih baik.

Iklan

2 responses to “Periodisasi dalam Karya Iwan Fals (Bagian 2)

  1. Ping-balik: Periodisasi dalam Karya Iwan Fals (Bagian 1) « Ahmad Makki

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s