Palestina, Solidaritas, Kita

Palestina berubah jadi ladang pembantaian. Ini memang bukan yang pertama kali, tapi merupakan salah satu titik kulminasi konflik. Sebagian besar warga dunia menghibahkan simpatinya untuk Palestina dengan berbagai ekspresi, mulai bantuan, ucapan bela sungkawa, lagu, teriak kegeraman, sampai yang mondar-mandir di rimba blogosfer untuk mendukung Palestina sambil menghujat Israel.

Tapi memang betul, Israel terlalu bebal untuk belajar hidup bersama.

Di sini, masing-masing kita punya semua ekspresi yang disebut di atas, mulai yang mengatasnamakan keislaman hingga yang berdasar kemanusiaan.

Seorang ketua parpol di negara kita sampai harus berurusan dengan kepolisian selepas mengomandoi ribuan massa yang membawa atribut partainya sambil meneriakkan dukungan untuk Palestina, ia diduga melakukan praktik kampanye terselubung dengan memanfaatkan isu yang tengah hangat.

Ini memang memang zaman multimedia dan keterbukaan informasi, segala berita dimuat di televisi dan surat kabar. Risikonya, yang tidak termuat bisa dianggap bukan berita. Jangan-jangan perasaan solidaritas pun belum sah jika belum diliput media. Soal ini, kisah kawan saya bisa menjadi ilustrasi.

Kala itu ia dihubungi salah satu kader parpol yang ketuanya disebut di atas. Mereka mengobrol banyak soal konflik Gaza. Mendadak kader parpol itu bertanya: “Mana NU (Nahdlatul Ulama) dan Muhammadiyah, masa saudara-saudara kita dibantai mereka santai-santai saja?”

Kawan saya yang merasa sebagai Kader NU ini balik bertanya: “Definisi “santai-santai saja” menurut ente itu bagaimana?”

“Tidak ada reaksi. Kami (para kader parpol tersebut) sudah capek-capek berunjuk rasa dan berbicara ke sana-sini mendukung Palestina, masa ente dan kawan-kawan belum juga bergerak.” Jawab kader parpol.

Mendengar ini kawan saya kontan tertawa dan kembali bertanya: “Maaf, ente sembahyang subuh memakai qunut atau tidak?”

“Tidak” Jawab sang kader parpol
“Ente mengenal tradisi istighosah?”
“Tidak”

Kawan saya langsung menegaskan, “Saya tidak mau mengusik ritual ibadah ente, masing-masing punya tata-cara sendiri. Tapi pilihan orang NU terhadap qunut dan istighosah itu ada sejarahnya.”

Lalu kawan saya melanjutkan: “Ritual qunut dan istighosah itu berawal dari keprihatinan terhadap kondisi umat Islam di suatu zaman. Ini merupakan reaksi atas kesulitan yang dirasakan sendiri atau saudara sesama mulim di seluruh dunia.”

“Jadi kalau mau dihitung, setiap hari sudah puluhan tahun kami mengekspresikan rasa simpati, hanya saja kami tidak berkoar-koar, dan tidak protes kalau tidak diberitakan media.”

“Orang Muhammadiyah juga punya cara sendiri untuk itu. Soal bantuan materi, kita tidak usah menghitung, lah. Itu urusan pribadi.” Pungkas kawan saya.

Saya tidak tahu nasib pembicaraan itu pada hari-hari selanjutnya. Tapi saya baru sadar bahwa ada yang memaki intensitas kemunculan di media sebagai ukuran taraf keagamaan individu atau kelompok.

Sejak itu saya beberapa kali merenung dan tertawa sendiri sambil merasa rawan. Jangan-jangan orang-orang seperti saya yang tidak pernah masuk media massa bisa dianggap tidak cinta negara, tidak menunjukkan keislaman, bahkan tidak dianggap ada.

Iklan

7 responses to “Palestina, Solidaritas, Kita

  1. sebenernya bukan itu yang menjadi substansi dari gelombang simpatisme salah seorang kader yang kebetulan menegur kawan Anda. Bukan masalah ekspos atau tidak. Karena saya tahu, ketika itu tidak ada sebetik niat dari kader PKS untuk mempublikasikan aksi mereka lewat media. Medialah yang secara tidak sengaja mempublikasikannya.
    Saya memang bukan kader PKS, tapi bukan pula simpatisan NU. Hanya saja, sekarang mbok ya kita juga punya sikap yang bijak dalam menanggapi segala aksi yang dilakukan teman-teman sekalian untuk Palestina. Aksi solidaritas tersebut sampai turun ke jalan untuk lebih menekankan kegeraman kita atas kebiadaban Israel, musuh kita bersama. Kalau dengan aksi itu saja Israel masih keukeuh memerangi saudara kita di Palestina sana, apalagi kita tak bergerak sama sekali. Ingat teori tentang gerakan sosial, dimana gerakan turun ke jalan bisa menjadi salah satu upaya mengintervensi dan menekan objek yang tengah kita bidik untuk melakukan atau setidaknya mengabulkan tntutan kita.
    Saya rasa Anda mungkin lebih paham,mengingat membaca postingan Anda, sepertinya Anda adalah aktivis.
    Saya juga tak menyalahkan Anda yang mungkin punya cara sendiri, yang lebih softly, dalam mengekspresikan solidaritas dan simpatsme Anda pada rakyat Palestina melalui zikir dan doa. Itu penting dan perlu. Tapi sekali lagi, terkadang musuh Islam butuh melihat ekspresi kegeraman bersama dari kita umat Islam secara nyata, secara serentak, secara bersama. karena itu yang mereka takutkan; kekuatan umat Islam yang besar!
    Lebih penting lagi, dalam membahas mengenai nasib Palestina, kiranya kita bisa bersama-sama menahan laju reaksi fanatisme yang ada di dada. Karena fanatisme itulah yang terkadang menjadikan kita tak mampu melihat something positif dalam kandungan suatu masalah. Akhirnya, entah Anda PKS, entah ia yang NU, atau sebaliknya, yang pasti kita adalah Muslim. Berbeda memang rahmat. Tapi semoga tak menjalar sampai ke elemen inti yang akan menyebabkan kekoyakkan ukhuwah islam kita terjadi.
    Salam,
    Nyimas Gandasari

  2. To Nyimas Gandasari:
    Kok tahu dalam hati kader PKS tak terbetik sedikit pun niat untuk memublikasikan aksi mereka ke media?
    Aa dua keanehan:
    1. kok Nyimas bisa tahu niat kader2 PKS? Niat kan adanya dalam hati.
    2. kalau orang berdemonstrasi di jalanan, ribuan orang lagi, pasang bendera pula, lantas tidak bermaksud untuk diberitakan, masa sih?

  3. 😆 tetep dianggep kayaknya lo kalo di dunia maya.. soalnya lagi ngetrend istilah internet presence :wink:.. kok yang jaipong nggak bisa gw klik read morenya ya ?? apa kompi sini yang bermasalah ❓

  4. @ nyimas:
    turun ke jalan itu saja sebenarnya bukanlah cara Islam, tapi meniru cara barat. bukankah cara Islam itu berlemah lembut, berkasih sayang. Lagipula jika dipikir dengan akal sehat, apakah musuh akan takut kita turun ke jalan itu, mungkin mereka hanya tertawa2 kecil saja melihat aksi kita.

    Tentang Israel ini, tenang saja, Rasulullah SAW sudah berjanji akan datang Imamul Mahdi, hny Imamul Mahdi saja yang bisa menawan kembali Baitul Maqdis dan menghancurkan yahudi. tunggu dan perjuangkanlah kedatangannya.

  5. mas asep nech omongannya kaya anak kecil sok intelek. sory gw bukan mahasiswa dan gw najis banget ama parpol cuman gw setuju banget dengan pendapat sodara nyimasgandasari.. kalow ente kader PKS tetep berjuang yach jangan peduliin siapapun. cuman pesen gw jangan ampe pas PKS menang lupa dan gila akan jabatan dan uang.

  6. adefadle sama2 aneh lo.. gini lo yakin akan tuhan gak? sama ajah lo berdoa sekuat apapun pengen menta mobil tapi lo gak ada usaha. soryyy gata bahasa lo sok islami tapi dangkal… soryy kawan koreksi diri lo dulu key.

  7. wallahi….lemahnya israel bagaikan rumah laba-laba, yg dengan mudah kita menghancurkannya. save palestina..!!
    kami juga nulis artikel tentang palestina. judulnya “aku anak palestina” liat aja di sini lngng klik aja
    http://masamudamasakritis.wordpress.com/
    jgn lupa tinggalkan komentar juga ya…!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s