Jaipong dan Peta Keislaman di Indonesia

Beberapa waktu lalu Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, melontarkan pernyataan soal budaya jaipongan yang dikaitkan dengan nilai-nilai kesopanan. Ia mengatakan bahwa budaya yang identik dengan goyangan ini mesti “dipermak ulang” agar terlihat lebih sopan.

Pernyataan ini sempat menyulut kontroversi dan tentu saja memancing penolakan, terutama dari kalangan penggiat kebudayaan. Mereka tentu saja menganggap bahwa pernyataan Heryawan keterlaluan dan cenderung tidak mengapresiasi kebudayaan yang telah dijalani dan dihayati masyarakat secara turun-temurun.

Statement ini menurut saya bisa dihadapkan dengan ucapan Ketua Umum PBNU, KH. Hasyim Muzadi beberapa bulan sebelumnya yang mengajak masyarakat untuk menolak tren baru keislaman yang disebutnya sebagai transnasionalisme Islam. Saya melihat pernyataan Heryawan dan KH Hasyim Muzadi ini sebagai gambaran dari peta keragaman pemahaman keislaman yang ada di Nusantara.

Ahmad Heryawan, kita tahu, adalah tokoh politik yang berasal dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang kini banyak menjadi bahan perbincangan publik karena tengah naik daun. Partai ini berbeda dengan banyak partai Islam lainnya karena berlandaskan corak pemahaman keislaman yang dapat dikatakan baru di negeri ini.

Kita tahu secara garis besar corak pemahaman keislaman di negeri ini didominasi oleh dua ormas besar, yakni Nahdatul Ulama (NU), serta Muhamadiyah. Di luar dua kekuatan mainstream tersebut masih ada kelompok seperti Persis dan lain-lain.

Partai-partai Islam selain PKS, seperti PPP, PBB, PKNU dan lain sebagainya, meski memiliki nilai perjuangan yang berbeda, namun landasannya masih tak bergeser jauh dari ormas-ormas Islam yang disebut di atas. Karenanya tak heran jika mereka cenderung tak punya permasalahan berarti dengan budaya lama Nusantara, bahkan yang bersifat goyangan sekalipun.

Sementara PKS adalah sebuah partai yang berpijak dari paham wahabiah yang kini menjadi kekuatan dominan di Arab Saudi. Secara genealogi ide partai ini memiliki banyak kesamaan dengan organisasi Hizbut Tahrir (HT). Pandangan miring Ahmad Heryawan terhadap “tradisi goyang”, yang bisa dikatakan mewakili pendirian partainya, tak mengherankan jika melihat karakter paham wahabi yang memang senang melakukan purifikasi terhadap pemahaman keagamaan, dan mengidealkan corak hidup layaknya pada era Nabi Muhammad. Makanya tak jarang gerakan kelompok seperti ini disebut sebagai arabisasi Islam (lihat tulisan berjudul Menolak Arabisasi Islam Indonesia). Corak gerakan seperti inilah yang disebut oleh KH. Hasyim Muzadi sebagai gerakan “transnasionalisme Islam.

Gerakan transnasionalisme Islam dimaksudkan sebagai pemahaman keagamaan yang cenderung tidak mengapresiasi budaya lokal setempat yang tentu saja tidak dikenal pada pola kehidupan di era Nabi Muhammad. Mereka menganggap bahwa pola kehidupan generasi pertama Islam bernilai universal, baik dalam konteks ruang maupun waktu. Tak peduli jika sendi-sendi sosiologis masyarakat telah beubah jauh. Karenanya tak heran jika gerakan semacam ini menyenangi simbol-simbol khas budaya Arab seperti jenggot, jilbab dan pakaian yang sangat lebar, sampai istilah-istilah arab seperti antum, ukhti, muhasabah dan seterusnya. Bahkan ada yang menganggap simbol-simbol Arab tersebut sebagai bagian tak terpisahkan dari ritual keagamaan, sehingga seolah keagamaan seseorang bisa diukur dari rajinnya ia memelihara jenggot!

Sementara pendirian NU yang diwakili oleh pernyataan KH hasyim Muzadi dapat dilacak sejak berabad-abad lampau di Nusantara. Kreativitas dakwah yang diusung kelompok Wali Songo, yang banyak melakukan hibridisasi antara nilai-nilai keagamaan dengan kebudayaan lokal, membuat Islam dapat diterima secara luas hampir di seluruh wilayah Nusantara. Padahal agama ini tergolong baru di negeri ini jika dibandingkan dengan Hindu, Budha, apalagi Kapitayan, yakni salah satu agama tertua di Nusantara.

Sejarawan Agus Sunyoto mengatakan bahwa pola gerakan “arabisme Islam” sebetulnya sudah ada sejak orang-orang Islam pertama kali menginjakan kaki di wilayah ini. Namun ketika itu gerakan ini bukanlah berdasar sebuah ideologi seperti wahabi, namun hanya berdasar adat pedagang-pedagang Islam yang memang kebanyakan berasal dari Jazirah Arab dan sekitarnya. Pola seperti itu, demikian Agus Sunyoto, terang saja gagal bersaing dengan agama seperti Hindu dan Budha yang rajin mengapresiasi budaya lama yang banyak berasal dari agama Kapitayan. Tren ini baru berhasil diubah oleh kelompok Wali Songo. Kunci keberhasilan Wali Songo, menurut Agus Sunyoto, adalah sebagaimana disebut di atas, mau menghibridisasi nilai dan ritual keagamaan dengan corak pemahaman kebudayaan setempat. Makanya tak heran jika tradisi keislaman di Indonesia banya memiliki ciri khas yang tak bisa ditemui di tempat lain. Kekhasan ini ditunjukkan oleh istilah-istilah seperti sembahyang, puasa, langgar, neraka, surga, yang berasal dari Nusantara sendiri (bukan Budha atau Hindu), serta simbol seperti bedug, pesantren, sarung dan sebagainya.

Pola keislaman seperti ini sebetulnya pernah diusik oleh serombongan ulama yang baru pulang dari ibadah haji dan sempat memelajari paham wahabi di tanah Arab. Kelompok ini kemudian menamakan diri sebagai Muhammadiyah. Atas resistensi inilah para ulama yang mewarisi corak keislaman ala Wali Songo membentuk organisasi NU di bawah pimpinan KH. Hasyim Asyari. Namun seiring perjalanan waktu, Muhammadiyah kian bersikap ramah terhadap budaya lokal. Saya pribadi melihat pergeseran ini paling mencolok terjadi ketika Muhamadiyah dipimpin oleh Prof. Dr. Syafii Maarif.

Paham wahabi di Nusantara baru mendapat tenaga kembali ketika muncul kelompok-kelompok seperti HT serta PKS. Pada level mahasiswa mereka mengorganisasi diri dalam Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslimin Indonesia (KAMMI) serta Lembaga Dakwah kampus (LDK). Menurut beberapa kawan saya yang berdomisili di daerah Sawangan Depok, pernyataan Ahmad Heryawan di atas bukanlah resistensi pertama kelompok wahabian ini terhadap tradisi. Sebelumnya Walikota Depok, Nurmahmudi Ismail, yang juga berasal dari PKS sudah menunjukkan gelagat penolakan terhadap ritual keagamaan yang memfusikan diri dalam tradisi seperti tahlil, maulid nabi dan lain sebagainya.

Resistensi masyarakat terhadap pandangan minor Ahmad Heryawan terhadap jaipongan mestinya jadi pelajaran berharga bagi kelompok ini. Tidak selamanya kebudayaan mesti ditimbang dari perspektif moralitas yang kaku dan justru asing di negeri ini. Kegagalan upaya-upaya sebelumnya untuk “mengudeta” corak Islam yang ramah terhadap budaya kiranya cukup menjadi bukti bahwa kita, kaum muslim di Nusantara, -mengutip tulisan Ahmad Baso- bukanlah orang-orang Islam yang tengah tinggal di Nusantara, namun warga Nusantara yang memilih untuk memeluk Islam.

Iklan

13 responses to “Jaipong dan Peta Keislaman di Indonesia

  1. awas…awas…! PKS: partai kera sakti.

  2. PKS: partai kampungan sekali.

  3. Assalamualaikum

    kita sebagai umat muslim bersikap bijak saja, cara berdakwah setiap organisasi mempunyai cara-cara-nya sendiri. Yang terpenting bagaimana umat muslim dapat menjalankan syariat-nya. Para sunan memberi contoh berdakwah dengan alkulturasi budaya sedangkan ada kelompok-lain berdakwah dengan kemurnian-nya.

    Partaipolitik tetap partai politik…pasti punya goal politik

  4. bener tuh. sebagai warga negara indonedia yang lahir di indonesia ter cinta, saya tentu sangat menghormati kebudayaan indonesia.

    bahaya tuh kalo budaya kita ditolak gitu za mau apa lagi yang kita banggakan.

    tolak deh orang-orang/kelompok/partai yang mencoba-coba seperti itu.

  5. dahsyat…tulisan bung makki…keseluruhan tulisan di blog ini tertata rapi dalam penuturan serta alirannya. asyik dibaca.. Ini baru tahu ada blognya ternyata…

    gara2 blog lu ini w jadi ikut2an dah bikin blog juga. ketimbang di FB ga asyik.

    Ya namanya jg masih belajar…jadi blognya masih belum siap hidang..alias ala kadarnya asal nongol aja dulu

  6. wah kayaknya gw ketinggalan banyak neh
    mulai nulis lagi juga deh
    hehehe…

    sengaja tidak mengucapkan salam

    adang adha

  7. Mestinya yang kita cari tu kebenaran bukannya Pembenaran 🙂 tul ga?
    Tulisan yang bagus mudah-mudahan bermanfaat
    saya tunggu tulisan selanjutnya ya!

  8. yang alergi terhadap “Arabisasi Islam” ternyata banyak, tapi lebih banyak lagi yang alergi terhadap “Baratisasi Islam”. bukan begitu kang makki…

  9. iyalah jaipong made in indonesia ..

    awas jaipong di maling ma malingsia ..
    hahahaha ,.

    JUAL KAOS COUPLE MURAH RP 90rb DAN CELANA JEANS LEVI’S MURAH RP 95rb silahkan ke http://www.aghi182.wordpress.com

    Makki: Mantap, kapan-kapan pesen ah. Oh iya, kalau mau cari model iklan buat kausnya saya ikut audisi deh. Hehehehe

  10. Karena dicap sensual atau erotis, akhirnya tari Jaipong pun semakin terpinggrikan. Padahal tari tersebut merupakan produk atau tradisi yang mempunyaui nilai seni dan budaya lokal. Sayang jika tidak dijaga dan dilestarikan ya

  11. setuju… seharusnya budaya itu tidak dikaitkan dengan kaidah agama… karena budaya itu ada karena tradisi masyarakat kita…

    i love kebudayaan indonesia

  12. Perlu dikaji kembali keyakinan seorang “Muslim” terhadap “Komitmen” syahadat, selanjutnya Adam diakui sbg manusia pertama yang membawa komitmen Tuhan dan budaya hidup, menyebar, membias dan bercorak ke-setiap sudut bumi antar generasi hingga sampai ke Nusantara. Kemudian Tuhan “refresh” dgn Restorasi keyakinan terhadap Tuhan – Allah (akidah) oleh para nabi dan disempurnakan oleh Muhammad SAW yang membawa adab dan syariat (pengendali fitrah) dasar dari kembalinya budaya sesungguhnya manusia hingga akhir zaman, dengan Islam…
    Jadi, jika bicara ruh budaya, mana yang lebih awal? Bukankah budaya manusia mengakui Tuhan? Nusantara akan bening jika tiap ummatnya kembali kepada komitmen hidupnya masing2, menata budaya lebih jelas mana yg relevan thd aturan Tuhan (Pancasila ayat 1) dan mana yg disimpan menjadi sejarah…. Semoga kita menjadi orang yang jels “Komitmen-nya”….

  13. kapan mau pada jaipongan rek?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s