Category Archives: Musik

Periodisasi dalam Karya Iwan Fals (Bagian 2)

(Tulisan sebelumnya)

Untaian kalimat semacam “lagu roda dua seperti malas tak beringas”,  “setangkai kembang pete, tanda cinta abadi namun kere”, serta “kalau hanya senyum…Westerling pun tersenyum”,  adalah ungkapan khas yang hanya bisa dicapai oleh Iwan Fals. Ini menandakan bahwa syair citanya tak kalah dengan lagunya yang semacam pada era sebelumnya.

Dengan kritisisme yang telah menjadi watak syairnya, ditambah kualitas syair yang begitu berkelas, apalagi menghitung jumlah penggemarnya yang bejibun, tak akan ada yang menggugat ketika ia dinobatkan sebagai salah satu pahlawan Asia oleh majalah Time.

Periode ini berakhir ketika mendadak Iwan Fals menarik diri dari hingar-bingar dunia musik Nusantara pada awal dekade 90-an. Memang ketika itu ia masih mengeluarkan beberapa album repackage namun tidak banyak menghasilkan karya baru. Selain itu ia juga terlibat dalam proyek-proyek Kantata Taqwa, namun intensitasnya tak bisa dibandingkan dengan era sebelumnya. Baca lebih lanjut

Periodisasi dalam Karya Iwan Fals (Bagian 1)

Iwan Fals merupakan satu dari sedikit musikus legendaris Nusantara yang masih aktif dalam berkarya. Meski pada dekade 90-an ia sempat vakum, dalam arti tidak rutin memublikasi lagu-lagu baru, namun dekade selanjutnya sampai kini ia cukup teratur mengeluarkan beberapa album dengan lagu-lagu baru, baik yang ditulisnya sendiri maupun oleh orang lain.

Masa-masa vakum penyanyi kharismatik ini pada dekade 90-an merupakan era yang sangat penting bagi corak karya-karyanya. Kita dapat melihat pergeseran yang mencolok dalam pandangan dunia sang aku lirik dalam lagu-lagu Iwan Fals pra 90-an, dengan pasca 90-an. Berdasar hal tersebut perjalanan karir penyanyi bernama asli Virgiawan Listianto ini menurut saya dapat dibagi menjadi tiga periode. Di sini pembagian periode tersebut diistilahkan sebagai periode Iwan Fals muda, periode kematangan, dan periode Iwan Fals tua. Baca lebih lanjut

Absennya Refleksi dalam Karya Musik Industri Kita

selfreflection
Heidegger mengatakan bahwa Dasein (manusia) adalah makhluk yang pada hakikatnya cenderung larut dalam banalitas kehidupan yang membuatnya menjalani dan memandang kenyataan sekadar sebuah rutinitas linier yang berkesinambungan. Barulah pada saat dihadapkan pada pilihan yang menentukan hidupnya, Dasein tercerabut dari realitas yang dijalaninya dan menghayatinya sebagai setiap momen yang urgen. Heidegger mengibaratkan proses ini layaknya kehadiran alat bantu dalam kehidupan kita, semisal telepon genggam. Kita memanfaatkan teknologi ini secara rutin tanpa menyadari lagi hakikatnya. Kita baru akan memikirkan kembali arti dan hakikat telepon genggam ini setelah ia tak bisa berfungsi lagi. Baca lebih lanjut

Ring Back Tone, Dua Sisi Mata Uang Teknologi

g307_color_admat1

Poster konser G3

Runaway world, demikian Giddens mengomentari kemajuan kehidupan zaman ini yang kian kencang dan sulit diprediksi. Teknologi telah membuat semuanya jadi serba mungkin, segala sisi kehidupan kini telah berjalan sedemikian praktis. Banyak hal yang tak pernah dipikirkan manusia, atau menjadi sekadar fiksi ilmiah pada beberapa dekade sebelumnya, kini benar-benar telah terjadi dan berlaku sebagai pengalaman sehari-hari dan merambah ke segala bidang kehidupan, tanpa kecuali. Gejala yang sama tentu saja menjangkit di dunia musik, terutama jika kita memperlakukannya sebagai satu unsur terpenting dalam jagat hiburan.

Baca lebih lanjut

Menyoal Syair dan Tema Lagu-lagu Indonesia

Sampul Album ERK

Sampul Album ERK

Nada-nada yang minor
Lagu perselingkuhan
Atas nama pasar semuanya begitu klise
Elegi patah hati
Ode pengusir rindu
Atas nama pasar semuanya begitu banal

Reff: Lagu cinta melulu
Kita memang benar-benar melayu
Suka mendayu-dayu
Apa memang karena kuping melayu
Suka yang sendu-sendu
Lagu cinta melulu.

(Cinta Melulu, Efek Rumah Kaca)

Beberapa waktu lalu saya dan teman saya Asep Sopyan, yang tengah menyusun skripsi tentang proses kreatif Ebiet G. Ade, mencoba membandingkan kondisi industri musik di Indonesia saat ini dengan kondisi di ruang yang sama pada dua dekade sebelumnya, yakni 80-an dan 90-an. Berawal dari situ saya ingin membahas dua sisi dari musik-musik industri di negeri kita, yakni syair dan tema musik berdasar kecenderungan dunia musik industri di negeri kita saat ini. Pada tulisan ini saya memfokuskan bidikan pada grup musik karena jenis inilah yang merajai rimba permusikan Indonesia pada dekade 2000-an, meskipun di beberapa titik saya masih menyebut beberapa nama solois, dan tak menutup kemungkinan pembicaraan ini relevan untuk jenis tersebut.

Baca lebih lanjut