Category Archives: Sosial, politik, budaya

Boleh di”lanjutkan”, asal…

Pilpres 20091.  Tidak neoliberal

2.  Tidak menjual BUMN dan aset negara lainnya

3.  Tidak menggunakan iklan menteri-menteri untuk berkampanye

4.  Tidak membiarkan tim kampanyenya berlaku rasis

5.  Tidak terlalu mudah menghutang dari negara lain

6.  Tidak sok bijaksana saat calon lainnya protes karena disulitkan keadaan

7.  Tidak menjelek-jelekkan bisnis pejabat tapi bisnis keluarganya dibiarkan

8.  Tidak membiarkan kisruh DPT berlanjut

9.  Tidak kompromistis dengan kesalahan-kesalahan KPU

10. Tidak memakai kekuatan hukum untuk menyulitkan orang yang tak sependapat

11. Tidak memakai media untuk menghalangi hak calon lain

12. Tidak “ngambek” saat dikritik calon lain

13. Tidak membalas kritikan kalau calon lain tidak boleh mengritik

14. Tidak cuma “nampang” saat mengumumkan kebijakan yang populis

15. Tidak menyuruh orang lain saat mengumumkan kebijakan yang tidak populis

16. Tidak tunduk dengan pihak asing

17. Tidak memakai kekuatan media untuk mengalihkan protes atas kebijakan yang tidak populer

18. Tidak suka menyembunyikan keberhasilan orang lain

19. Tidak marah-marah saat menegur orang lain yang bosan dengan pidatonya

20. Tidak cuma mengajak negara-negara besar saat WOC, tapi juga nelayan

21. Tidak menghalalkan segala cara untuk menang

Iklan

Pilpres, Boediono dan pusaran ide-ide

pemilu, pilpres, capres

pemilu, pilpres, capres

Masuknya nama Boediono sebagai kandidat cawapres pendamping Susilo Bambang Yudhoyono pada awalnya cukup mengejutkan berbagai pihak. Sosok kalem ini lebih dikenal sebagai seorang ekonom yang tenggelam dalam dunia akademis dan masalah-masalah perekonomian bangsa ketimbang sebagai seorang politikus. Munculnya nama ini bahkan sempat mengancam koalisi yang sebelumnya telah dibangun Partai Demokrat.

Namun di luar pro-kontra tersebut, dalam pandangan saya keikutsertaan Boediono dalam kompetisi pilpres kali ini seharusnya bisa menjadi alat pemicu yang menarik dalam hal perdebatan ide di antara masing-masing pasangan kandidat presiden-wakil presiden.

Kita tahu bahwa sebagai seorang ekonom, Boediono adalah sosok yang mewakili kelompok pro IMF, bersama sejawatnya, Sri Mulyani. Kelompok ini seringkali disebut sebagai neo liberalisme atau neolib. Jika kita masih mau percaya dengan platform politikus dan partainya di Indonesia, maka kehadiran sosok mantan Gubernur BI ini merupakan tandingan sepadan bagi ide-ide kerakyatan yang digalang oleh pasangan Mega-Prabowo, serta isu kemandirian yang diusung Jk-Wiranto. Dalam anggapan saya, jika pertarungan ide ini terjadi secara normal, maka ini merupakan pendidikan politik yang sangat berharga bagi seluruh rakyat Indonesia. Baca lebih lanjut

Jaipong dan Peta Keislaman di Indonesia

Beberapa waktu lalu Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, melontarkan pernyataan soal budaya jaipongan yang dikaitkan dengan nilai-nilai kesopanan. Ia mengatakan bahwa budaya yang identik dengan goyangan ini mesti “dipermak ulang” agar terlihat lebih sopan.

Pernyataan ini sempat menyulut kontroversi dan tentu saja memancing penolakan, terutama dari kalangan penggiat kebudayaan. Mereka tentu saja menganggap bahwa pernyataan Heryawan keterlaluan dan cenderung tidak mengapresiasi kebudayaan yang telah dijalani dan dihayati masyarakat secara turun-temurun. Baca lebih lanjut

Palestina, Solidaritas, Kita

Palestina berubah jadi ladang pembantaian. Ini memang bukan yang pertama kali, tapi merupakan salah satu titik kulminasi konflik. Sebagian besar warga dunia menghibahkan simpatinya untuk Palestina dengan berbagai ekspresi, mulai bantuan, ucapan bela sungkawa, lagu, teriak kegeraman, sampai yang mondar-mandir di rimba blogosfer untuk mendukung Palestina sambil menghujat Israel.

Tapi memang betul, Israel terlalu bebal untuk belajar hidup bersama.

Di sini, masing-masing kita punya semua ekspresi yang disebut di atas, mulai yang mengatasnamakan keislaman hingga yang berdasar kemanusiaan. Baca lebih lanjut

Menolak Arabisasi Islam Indonesia

Sampai kini kita sepakat bahwa para propagandis Islam paling berhasil sepanjang sejarah Nusantara adalah ulama-ulama legendaris yang kelompoknya lazim disebut sebagai Wali Songo. Meski mereka tidak bisa sepenuhnya dipandang sebagai kelompok yang utuh, dalam artian memiliki komando dan aturan bersama yang jelas dan teratur, namun cara mereka berdakwah menunjukkan modus yang hampir mirip, yakni menekankan hibridisasi antara nilai-nilai keislaman dengan budaya dan kearifan lokal.

Ada yang memanfaatkan wayang kulit untuk upaya publikasi dan edukasi nilai-nilai keislaman, ada juga yang memakai alat musik untuk merayu orang masuk ke masjid, bahkan ada yang berpartisipasi dalam sabung ayam demi mendapat nilai-nilai ketokohan dalam masyarakat, sehingga lebih mudah untuk memengaruhi orang lain. Pola-pola seperti ini sebetulnya bukanlah hal yang aneh jika kita melihat fakta begitu beragamnya corak keislaman di berbagai penjuru dunia. Mungkin karena faktor kemajemukan sub kultur Nusantaralah yang membuat proses ini terlihat begitu mencolok. Sebetulnya sejak zaman Nabi pun proses seperti sudah terjadi dengan sendirinya. Baca lebih lanjut

“Perangkap Pangan”: Cara Cepat Mendikte Indonesia

Les Elephants-Salvador Dali-

Les Elephants-Salvador Dali-

Tampaknya kita harus memikirkan kembali gambaran tentang negeri ini yang penuh dengan imaji kemakmuran, kesuburan, dan kekayaan. Benar, bahwa negara ini merupakan salah pemilik tanah tersubur, beserta kekayaan sumber daya alam yang terkandung di dalamnya. Jika tidak, mana mungkin negara-negara Eropa dan Amerika sampai kini begitu ngotot menguncar setiap jengkal dari wilayah kita, hingga segala yang terkandung di dalam perut buminya.

Namun hal ini menjadi tidak relevan di depan fakta bahwa bangsa kita telah terjerumus ke dalam “perangkap pangan”, sebagaimana disebut harian Kompas (01/09/08). Istilah “perangkap pangan” ini digunakan Kompas untuk menggambarkan ketergantungan negara kita terhadap komoditas pangan impor. Relevansi istilah ini dapat dilihat dari kasus kelangkaan kedelai di Indonesia beberapa bulan lalu. Baca lebih lanjut

Perlukah Berbahasa Indonesia yang Benar dalam Blog?

Ruang Baca Harian Tempo

Sumber: Ruang Baca Harian Tempo

Maraknya tren blogging dewasa ini nampaknya akan terus meningkat untuk beberapa tahun ke depan, paling tidak di negara kita. Even kumpul blogger yang digelar belum lama ini memperlihatkan tingginya animo masyarakat untuk memanfaatkan teknologi ini. Saya tidak tahu pasti jumlah pengelola blog di Indonesia. Apalagi mengingat banyak orang yang mengelola lebih dari satu blog. Konon pada awal kemunculannya, blog merupakan halaman web yang difungsikan layaknya buku harian pribadi. Hingga kini pun masih banyak orang yang memakainya dengan tujuan tersebut, namun kesadaran para pengelolanya terhadap potensi yang dimiliki blog pada saat ini telah berkembang jauh. Baca lebih lanjut