Periodisasi dalam Karya Iwan Fals (Bagian 1)

Iwan Fals merupakan satu dari sedikit musikus legendaris Nusantara yang masih aktif dalam berkarya. Meski pada dekade 90-an ia sempat vakum, dalam arti tidak rutin memublikasi lagu-lagu baru, namun dekade selanjutnya sampai kini ia cukup teratur mengeluarkan beberapa album dengan lagu-lagu baru, baik yang ditulisnya sendiri maupun oleh orang lain.

Masa-masa vakum penyanyi kharismatik ini pada dekade 90-an merupakan era yang sangat penting bagi corak karya-karyanya. Kita dapat melihat pergeseran yang mencolok dalam pandangan dunia sang aku lirik dalam lagu-lagu Iwan Fals pra 90-an, dengan pasca 90-an. Berdasar hal tersebut perjalanan karir penyanyi bernama asli Virgiawan Listianto ini menurut saya dapat dibagi menjadi tiga periode. Di sini pembagian periode tersebut diistilahkan sebagai periode Iwan Fals muda, periode kematangan, dan periode Iwan Fals tua. Baca lebih lanjut

Iklan

Menolak Arabisasi Islam Indonesia

Sampai kini kita sepakat bahwa para propagandis Islam paling berhasil sepanjang sejarah Nusantara adalah ulama-ulama legendaris yang kelompoknya lazim disebut sebagai Wali Songo. Meski mereka tidak bisa sepenuhnya dipandang sebagai kelompok yang utuh, dalam artian memiliki komando dan aturan bersama yang jelas dan teratur, namun cara mereka berdakwah menunjukkan modus yang hampir mirip, yakni menekankan hibridisasi antara nilai-nilai keislaman dengan budaya dan kearifan lokal.

Ada yang memanfaatkan wayang kulit untuk upaya publikasi dan edukasi nilai-nilai keislaman, ada juga yang memakai alat musik untuk merayu orang masuk ke masjid, bahkan ada yang berpartisipasi dalam sabung ayam demi mendapat nilai-nilai ketokohan dalam masyarakat, sehingga lebih mudah untuk memengaruhi orang lain. Pola-pola seperti ini sebetulnya bukanlah hal yang aneh jika kita melihat fakta begitu beragamnya corak keislaman di berbagai penjuru dunia. Mungkin karena faktor kemajemukan sub kultur Nusantaralah yang membuat proses ini terlihat begitu mencolok. Sebetulnya sejak zaman Nabi pun proses seperti sudah terjadi dengan sendirinya. Baca lebih lanjut

“Perangkap Pangan”: Cara Cepat Mendikte Indonesia

Les Elephants-Salvador Dali-

Les Elephants-Salvador Dali-

Tampaknya kita harus memikirkan kembali gambaran tentang negeri ini yang penuh dengan imaji kemakmuran, kesuburan, dan kekayaan. Benar, bahwa negara ini merupakan salah pemilik tanah tersubur, beserta kekayaan sumber daya alam yang terkandung di dalamnya. Jika tidak, mana mungkin negara-negara Eropa dan Amerika sampai kini begitu ngotot menguncar setiap jengkal dari wilayah kita, hingga segala yang terkandung di dalam perut buminya.

Namun hal ini menjadi tidak relevan di depan fakta bahwa bangsa kita telah terjerumus ke dalam “perangkap pangan”, sebagaimana disebut harian Kompas (01/09/08). Istilah “perangkap pangan” ini digunakan Kompas untuk menggambarkan ketergantungan negara kita terhadap komoditas pangan impor. Relevansi istilah ini dapat dilihat dari kasus kelangkaan kedelai di Indonesia beberapa bulan lalu. Baca lebih lanjut

11 Februari

dreamingTahukah kau di sana dingin

memanggil dengan suara

yang bergetar, menunggu kita

mendatangi pondok itu dan meletakkan

tangan kita di jendela. Memandang danau

yang birunya memancar, di bawah rindang cemara.

aku ingin meletakkan cincin

di jarimu. Aku ingin memakaikan

kerudung putih ketika kau tertunduk.

Medan, 11 Februari 2006.

Perlukah Berbahasa Indonesia yang Benar dalam Blog?

Ruang Baca Harian Tempo

Sumber: Ruang Baca Harian Tempo

Maraknya tren blogging dewasa ini nampaknya akan terus meningkat untuk beberapa tahun ke depan, paling tidak di negara kita. Even kumpul blogger yang digelar belum lama ini memperlihatkan tingginya animo masyarakat untuk memanfaatkan teknologi ini. Saya tidak tahu pasti jumlah pengelola blog di Indonesia. Apalagi mengingat banyak orang yang mengelola lebih dari satu blog. Konon pada awal kemunculannya, blog merupakan halaman web yang difungsikan layaknya buku harian pribadi. Hingga kini pun masih banyak orang yang memakainya dengan tujuan tersebut, namun kesadaran para pengelolanya terhadap potensi yang dimiliki blog pada saat ini telah berkembang jauh. Baca lebih lanjut

Puisi jam 3 pagi


cassab_judy-pinkdressinggown

“Cinta itu warnanya merah.” Ucapmu.

“Lihatlah tanda yang ia tinggalkan

di dada kita.”

Ciputat, 16 November 2005.

Absennya Refleksi dalam Karya Musik Industri Kita

selfreflection
Heidegger mengatakan bahwa Dasein (manusia) adalah makhluk yang pada hakikatnya cenderung larut dalam banalitas kehidupan yang membuatnya menjalani dan memandang kenyataan sekadar sebuah rutinitas linier yang berkesinambungan. Barulah pada saat dihadapkan pada pilihan yang menentukan hidupnya, Dasein tercerabut dari realitas yang dijalaninya dan menghayatinya sebagai setiap momen yang urgen. Heidegger mengibaratkan proses ini layaknya kehadiran alat bantu dalam kehidupan kita, semisal telepon genggam. Kita memanfaatkan teknologi ini secara rutin tanpa menyadari lagi hakikatnya. Kita baru akan memikirkan kembali arti dan hakikat telepon genggam ini setelah ia tak bisa berfungsi lagi. Baca lebih lanjut