Rehat

Saya ingin mengisi halaman ini dengan catatan pribadi semacam buku harian, berupa kesan-kesan saya terhadap kejadian sehari-hari.

—————————————————————————–


16 Nopember 2008

Hmmm. Matahari pagi, hal yang jarang saya lihat. Jelas saya tak ingin tertidur pagi ini, meski mata belum sempat istirahat barang semenit pun. Sungguh saya tak ingin melewatkan live performance Efek Rumah Kaca -biasa disapa ERK- di Auditorium Utama UIN Jakarta hari ini. Barangkali terlalu berlebihan saya menghargai grup musik satu ini, tapi mesti bagaimana lagi saya menemukan grup musik dengan semangat sejenis mereka di negeri ini!

Tubuh saya tak juga mengeluh. Meski harus berangkat pagi ke kampus, meski harus berbaur dengan banyak orang, meski harus menunggu berjam-jam. Ya, ternyata mereka baru akan tampil tengah hari. Tapi, sungguh, tubuh saya tak juga mengeluh.

Akhirnya siang hari mereka muncul di panggung, dengan prima membawakan empat lagu; Debu-debu berterbangan, Desember, Cinta melulu, serta Di udara. Ya, hanya empat lagu. dan itulah satu-satunya hal yang membuat saya mengeluh hari ini.

Ciputat, 10 Nopember 2008

I

Keharusan untuk mengambil keputusan selalu memaksa kita untuk berpikir. Keharusan untuk mengambil keputusan senantiasa menyeret kita pada garis buram nostalgia. Jadi begini memang pada dasarnya manusia, cenderung lupa akan “Ada”. Heidegger pernah membahas hal itu dalam bukunya yang masyhur, Sein Un Zeit. Berawal dari rusaknya salah satu piranti komputerku dan membuat data-dataku hilang, aku baru menyadarai betapa berartinya mereka (data-data tersebut) bagiku. Dari situ aku seakan baru terbangunkan oleh sebuah fakta; begitu lamanya mereka tak lagi kubaca, kusentuh, kumodifikasi, kukritisi dan kureproduksi. Memang demikian rupanya. Kita sering merefleksikan sebuah realitas ketika ia mendadak berjalan tak wajar. Bukankah kita sering meratapi betapa berartinya seseorang ketika ia tak ada lagi di samping kita? Tapi bukannya terlecut, aku malah menjadikannya alasan untuk bermalas-malasan. Aku malu untuk menghitung berapa lama sudah lewat sejak aku terakhir kali menulis –dengan serius. Dan kini ketika ingin memulai lagi, aku sadar harus melakukan tapak tilas sejak dari titik awal.

Betapa berat memang mengulangi lagi capaian yang telah kita telantarkan, apalagi jika itu menyangkut sebuah perjalanan intelektualitas yang kita konstruksi dalam rentangan waktu tak singkat. Pasalnya kita semua menyadari, menulis bukanlah sebuah proses yang sederhana, sebagaimana kita mengguratkan hitam tinta menjadi simbol-simbol yang dapat kita mengerti, pada sebidang putih kertas. Menulis mestilah sebuah pekerjaan yang kita lakukan begitu hitungan umur kita dimulai.

Ketika lahir kita dihadapkan pada realitas yang tak kita pahami, pada identitas yang mesti kita cari. Kemudian nilai-nilai budaya, filsafat, pendidikan, agama dan pranata-pranata sosial lain membantu kita memandang kenyataan dalam kerangka konseptual tertentu, sehingga tak terlihat lagi centang-perenang. Ini belum termasuk proses ketika kita secara definitif memutuskan untuk menulis dan mempersiapkan kayu bakar serta peralatan untuk menyalakan api unggun pemikiran yang akan kita potret dan sajikan dalam tulisan.

Menulis adalah sebuah aktivitas yang diawali dari proses-proses demikian yang rumit. Karena ketika kita menuliskan sebuah kalimat, berarti kita juga tengah membawa ingatan, sejarah, wawasan, dan pelbagai peristiwa yang membentuk kalimat tersebut, baik dalam perspektif sejarah sosial setempat, maupun biografis sang penulis. Melihat proses yang sedemikian inilah, memulai kembali sebuah pekerjaan bisa jadi terasa sebagai sebuah pemborosan waktu, jika tak dilihat dalam bingkai motivasi dan optimisme yang tinggi.

Tapi aku memang tak lagi punya pilihan, bukan? Semoga.

II

Pada titik ini, menunggu jadi aktivitas yang sangat melelahkan bagiku. Kau tahu, di sini, sejak tadi kuhitung cermat jajaran angka pada kalender, sepertinya kian sering kuhitung, kian banyak sesakan angka tersisa yang mesti dilewati. Kemudian sesekali kuamati gerak-gerik jam dinding dengan waspada. Mendadak aku khawatir, jangan-jangan ia (jam dinding) bersekutu dengan waktu untuk memperlambat pertemuanku denganmu.

Lalu bagaimana lagi aku mesti percaya dengan waktu?

Pada lingkaran arloji, bukankah ia ditandai dengan garis-garis dan angka-angka yang berjarak sama? Pada layar hp ku dan hp mu, bukankah ia ditandai oleh angka yang berubah dalam interval yang sama? Lalu mengapa jarak setiap detik terasa memanjang, jarum jam seakan lebih sering termangu dan enggan bergerak sejak tadi?


Ciputat, 19 Nopember 2008

Saat ini aku baru saja menyelesaikan satu dari dua makalah yang mesti kutulis atas nama orang (pembicara) untuk melengkapi laporan seminar kementerian ESDM lalu. Secara material memang tidak begitu berat, dan kebetulan isu krisis energi dan air ini tidak kukuasai dengan baik, makanya cukup menantang. Tapi tetap saja aku merasa berhak mengeluh karena harus menyelesaikan satu makalah lagi. Namun, memang pada umumnya menjadi ghost writer memang selalu menyebalkan. Deadline waktu, keterbatasan tema dan sudut pandang, serta ketidakbebasan, adalah hal-hal yang menjadi ujian buat kita. belum lagi ditambah faktor-faktor pribadi seperti egoisme kita yang terpancing karena nama kita tak mungkin dicantumkan, atau perasaan semacam; “enak sekali jadi mereka”.

Namun kali ini aku harus menyelipkan ucapan syukur di sana sini, karena bagaimanapun aku sudah terlalu lama “cuti” menulis. Momen ini seharusnya bisa menjadi hukuman buat tangan, otak, naluri, dan mentalitasku yang lengah selama ini, agar di lain waktu mereka tidak mengulangi kesalahan yang sama.

***

Seharusnya hari ini akan kulanjutkan skripsi yang terbengkalai, tapi aku baru ingat bahwa buku yang akan kupakai untuk referensi belum selesai difoto kopi teman sekosku.

Memang, kita selalu akan menemui alasan-alasan untuk menutupi kemalasan kita, hah.

22 Nopember 2008

Jam 2, benar-benar pagi hari, ketika kami berlima lapar, dan kaus-kaus yang belum disablon masih bertebar. Sesekali tawa berkelebat, mengiris dinding-dinding lambung kami yang sejak tadi sepi. Lalu semua sepakat. Kami berdua berangkat. Aku dan Mansur, seorang aktivis kemanusiaan yang akrab disapa Pacun.

Ciputat mungkin tak seramai Jakarta, meski begitu di waktu malam lampu-lampu tetap semarak. Tapi di mana kami mesti mencari penjual nasi yang pulang terlalu pagi, atau sudah keluar terlalu dini? Di depan sana ada sebuah pom bensin yang terang, juga ada #FC (saya tak mungkin menyebut mereknya, ini etika zaman modern),  gerai junk food yang nyaman.

Di depan pintunya yang transparan, dibukakan penjaganya yang ramah dan rupawan, kami berdua mendadak saling pandang dan tertawa. Betapa jauh dunia aktivisme menjaga kami bertahun-tahun dari tempat-tempat begini, tempat-tempat yang membawa uang-uang kita ke luar negeri.

Di dalam, sambil menunggu pesanan, di bawah semburan ac yang wangi, aku berharap semoga tak ada kaca yang terkena sinar sedemikian rupa hingga mampu memperlihatkan kepada para tuannya  betapa canggung wajah kami.

2 Desember 2008

Aku mampir-mampir di blog Fatih Syuhud. Dia menulis tutorial orang-orang belajar dan mengerumuni. Dia menulis tentang Kartun Nabi orang-orang saling berteriak dan mencaci. Aku sedih.

3 Desember 2008

Paling tidak sejauh ini, keputusanku untuk membuat blog agar produktivitasku terpancing rasanya tepat. Semoga ini berlanjut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s